Dinas Gandeng PT Berdayakan UMKM di Bekasi

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bekasi, terus berinovasi dalam mendorong usaha mikro kecil menengah di wilayahnya, agar mampu bersaing di era revolusi industri 4.0. Salah satunya, dengan menggandeng perguruan tinggi.

“Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bekasi akan melakukan kerja sama dengan salah satu perguruan tinggi dari Ilmu Komunikasi dan informasi. Kerja sama dimaksud dalam rangka mendorong melalui pembinaan kepada pelaku UMKM, yang selama ini berada dalam binaan dinas kami,” kata Herawan, Kasi Pembiayaan Dinas Koperasi, UMKM Kota Bekasi, kepada Cendana News, Selasa (8/10/2019).

Dikatakan, bahwa kerja sama tersebut murni tidak dibiayai oleh dana APBD Kota Kota Bekasi, karena perguruan tinggi tersebut dalam rangka melaksanakan tugas tri dharma, untuk memajukan UMKM di Kota Patriot.

“Dinas hanya memberi fasilitas seperti mengumpulkan UMKM yang selama ini menjadi binaan dinas UMKM Kota Bekasi. Pembinaan tentu akan meliputi pengembangan digital marketing, pengelolaan keuangan serta sosialisasi tentag HAKI,” tandas Herawan.

Herawan, Kasi Pembiayaan Dinas Koperasi, UMKM Kota Bekasi. –Foto: M Amin

Menurutnya, UMKM di Kota Bekasi yang menjadi binaan Dinas UMKM mencapai 3000-an, terdiri dari sepuluh kluster, meliputi UKMK makan minum, fashion, furniture, bordir dan lainnya.

Dari semuanya, keluhan yang terjadi terkait dengan manajemen keuangan yang dihadapi oleh pelaku UMKM.

Dari sepuluh kluster UMKM di Kota Bekasi, sampai saat ini masih didominasi oleh pelaku UMKM makanan dan minuman (Mamin). Pertumbuhannya cukup signifikan dan menjadi salah satu andalan di Kota Bekasi, dengan beragam produk yang diinovasikan.

Untuk itu, dia mengaku dalam kerja sama dengan perguruan tinggi tersebut, akan mengarahkan pembinaan terkait pengelolaan manajemen keuangan. Hal tersebut agar pelaku UMKM dalam mendapatkan pembiayaan lebih mudah, karena salah satu persyaratan yang harus diikuti adalah soal neraca kas keluar masuk harus jelas.

“Ketika pelaku UMKM mau ada akses ke perbankan, maka yang diperlukan pihak pembiayaan adalah buku keluar masuk perusahaan dan selama ini lemah, maka ini harus diperkuat lagi bagaimana membuat buku kas perusahaan,” ujarnya.

Begitu pun soal pemasaran masih terbatas, hal tersebut tentu menjadi perhatian dalam meningkatkan daya saing di era industri 4.0.

Menurutnya, dalam pemasaran  perlu banyak pihak ke tiga menjadi bapak angkat yang memasarkan produk yang ada di Kota Bekasi.

Diakuinya pula, persoalan pembiayaan diperlukan kas keluar masuk, karena untuk mendapatkan pembiayaan di Kota Bekasi cukup mudah, melalui berbagai jasa pembiayaan seperti dana KUR, Telkom dan dana dari pemkot sendiri melalui dana bergulir. Semua ini jasanya lebih kecil jika dibandingkan dengan pembiayaan dari bank konvensional.

“Jasa keuangan yang memberi dukungan kepada pelaku UMKM sekarang cukup banyak, dalam rangka mendorong dan membantu membangun kemajuan pelaku UMKM di Kota Bekasi,” pungkasnya.

Lihat juga...