Memahami Perbedaan Tahapan HIV dan Aids
Editor: Mahadeva
JAKARTA – Kata HIV dan AIDS, sudah banyak didengar oleh masyarakat. Tetapi, tidak banyak yang memahami, bahwa HIV dan AIDS merupakan dua hal yang berbeda tahapan. Setiap penderita AIDS pasti HIV Positif, tapi tidak setiap HIV Positif adalah AIDS.
Divisi Advokasi PPH Unika Atmajaya Jakarta, Iman Abdurrakhman, memaparkan, bahwa HIV dan AIDS itu berbeda. “Kesalahpahaman masyarakat tentang HIV dan AIDS, keduanya adalah hal yang sama. Karena seringnya dua kata itu dituliskan bersamaan. Padahal itu adalah dua kondisi yang berbeda,” kata Iman Abdurrakhman, Senin (23/9/2019).
Penderita HIV positif dapat berkembang menjadi AIDS, jika tidak mendapatkan pengobatan secara tepat. “HIV atau Human Immunodeficiency Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh, yang menyebabkan tubuh tidak akan mampu mempertahankan diri dari serangan virus, bakteri dan kuman yang masuk ke tubuh,” urai Iman.
Saat kondisi tersebut terjadi, maka orang tersebut akan terkena AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome. “Jadi AIDS ini merupakan sindrom yang terjadi, ketika infeksi HIV telah sampai pada tahap akhir. Dimana kerusakan pada sel imun sudah terlampau parah dan tubuh kehilangan sistem pertahanannya,” ujar Iman.
Tidak setiap pengidap HIV akan menjadi AIDS. Tapi kalau AIDS sudah pasti HIV. “Saat seseorang dinyatakan positif mengidap HIV, maka yang harus dilakukan adalah mengkonsumsi ARV. Karena ARV akan mengontrol jumlah virus HIV yang ada dalam tubuh pengidap HIV. Sehingga, pengidap HIV tidak akan berkembang ke AIDS dan akan tetap bisa hidup baik dan sehat,” tandasnya.

ARV adalah obat, yang berfungsi untuk memperlambat perkembangan virus HIV. Cara kerjanya, dengan menghilangkan unsur yang dibutuhkan virus HIV untuk menggandakan diri, dan menghancurkan sel imun tubuh.
Ahli Kesehatan Masyarakat, Dr. Maya Trisiswati, MKM, menyebut, sudah banyak kasus pengidap HIV yang rajin minum ARV, berubah menjadi undetect. “Artinya undetect itu, virus HIV nya sudah tidak terdeteksi. Kalau dalam kondisi undetect ini, artinya pengidap HIV itu tidak akan mampu menularkan virus-nya ke orang lain,” ucapnya.
Dalam penularan HIV, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. “Jumlah virusnya harus memenuhi, ada akses keluar dari si pengidap HIV dan ada akses masuk pada orang lain. Kalau tidak, ya tidak akan terjadi penularan,” kata Maya.
Maya menyebut, sudah banyak kasus HIV Positif yang dapat hidup baik, bahkan menikah dan memiliki keturunan yang tidak tertular HIV dengan mengkonsumsi ARV secara teratur. “Dengan konsisten dan teratur mengkonsumsi ARV, hingga undetect, seorang ibu-pun dapat memiliki anak yang tidak tertular HIV dengan persalinan normal,” ujarnya.
Berdasarkan data Desember 2018, dalam kurun waktu 2010 hingga 2017, telah terjadi penurunan penderita AIDS hingga 9.280 orang. Sebelumnya di 2013, ada penderita 12.214 orang.