Jumlah Lahan Terlantar di Pesisir Selatan Mencapai Puluhan Ribu Hektare
Editor: Mahadeva
PESISIR SELATAN – Jumlah lahan terlantar di Pesisir Selatan, Sumatera Barat, saat ini mencapai 77.033 hektare. Hal itu mendorong Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Pesisir Selatan mengupayakan optimalisasi keberadaan lahan tersebut.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Pesisir Selatan, Nusirwan, mengatakan, lahan terlantar tersebut tersebar di 15 kecamatan. Keberadaan lahan terlantar, karena tidak dikelola atau dibiarkan tidur.
Faktor penyebabnya, mulai dari persoalan irigasi, hingga banyaknya hewan ternak yang berkeliaran di kawasan lahan tersebut. “Setelah kami pantau lahan seluas itu, potensi tanaman bisa dikembangkan untuk peningkatan ekonomi masyarakat, terinventarisasi sebanyak Sembilan jenis diantaranya, kelapa sawit, karet, kakao, kelapa, pala, gambir, nilam, kopi dan cengkeh,” kata Nusirwan, Senin (23/09/2019).
Dari sembilan komoditas tersebut, pengembangan kelapa sawit bisa dioptimalkan mencapai 30.423 hektare. Potensi paling besar berada di Kecamatan Lunang dan Silaut, dengan luas lahan 8.357 hektare. Lalu disusul Kecamatan Basa Ampek balai Tapan dan Ranah Ampek Hulu dengan luar lahan 6.544 hektare, Pancungsoal dan Airpura 4.810 hektare, sedangkan kecamatan Lengayang seluas 3.218 hektare. “Lalu untuk sisanya yakni delapan kecamatan lainya, yakni Sutera, Batangkapas, IV Jurai, Bayang, Bayang Utara dan Kecamatan Koto XI Tarusan,” ujarnya.
Selain kelapa sawit, potensi optimalisasi lahan tidur juga dapat dikembangkan untuk tanaman karet. Potensi luas tanamnya mencapai 13.293 hektare, dengan rata-rata mencapai 1.000 hektare per-kecamatan. “Sedangkan tanaman kakao potensinya seluas 10.100 hektare, disusul tanaman pala seluas 7.437 hektare. Tanaman gambir optimalisasinya juga mencapai 10.576 hektare, kopi seluas 2.504 hektare, cengkeh 1.397 hektare, tanaman nilam seluas 434 hektare pula,” terangnya.

Dari 15 kecamatan yang ada di Pesisir Selatan, Kecamatan Bayang merupakan kecamatan yang sedikit lahan tidur yang bisa dioptimalisasi, hanya seluas 1.062 hektare. “Di kecamatan ini, potensi optimalisasi lahan hanya pada jenis karet, kakao, kelapa, pala, gambir, kopi dan cengkeh. Sedangkan kecamatan yang memiliki lahan tidur terluas yang bisa dioptimalisasi adalah kecamatan Basa Ampek Balai Tapan,” tuturnya.
Di kecamatan tersebut, luas lahan yang bisa dioptimalisasi mencapai 10.347 hektare. Jenis tanaman yang dapat dikembangkan diantaranya, kelapa sawit seluas 6.544 hektare, karet 2.460 hektare, kakao 500 hektare, kelapa 155 hektare, gambir 332 hektare, nilam 35 hektare, kopi 300 hektare dan cengkeh 21 hektare.
Kasi Penyuluhan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Pesisir Selatan, Syafrianto, mengatakan, untuk lahan tadah hujan ada seluas 8.148 hektare. Keberadaanya, tersebar di 13 kecamatan. Lahan-lahan tersebut, saat ini sedang diupayakan untuk mendapatkan jaringan irigasi. Petani diminta mengolah lahan tadah hujan agar tetap produktif, misalnya dengan menanam jagung yang bisa menjadi bahan pangan alternatif di lahan tidur. Jagung memiliki pangsa pasar yang jelas, dan kestabilan harga cukup terjamin.
“Komoditi jagung merupakan salah satu produk tanaman pangan unggulan di Pesisir Selatan setelah padi. Kita bertekad, Pesisir Selatan menjadi sentra jagung nomor satu di Sumbar. Hal itu, didasari potensi lahan yang tersedia dan kemauan para petani menggarap lahan untuk ditanami,” pungkasnya.