Kenikmatan Cita Rasa Mie Aceh Tersaji di TMII

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

JAKARTA — Mie Aceh menyimpan kelezatan yang menggugah selera. Tekstur mienya yang kenyal dan lembut berpadu bumbu rempah-rempah dengan taburan bawang goreng di atasnya. Saat disantap hangat-hangat mampu membuat lidah penikmatnya ‘bergoyang’.

Kepala Anjungan Aceh TMII, Cut Putri Alyanur. Foto: Sri Sugiarti

Mie Aceh adalah kuliner khas Serambi Mekah yang berbahan dasar mie kuning. Bentuknya lebih besar daripada mie pada umumnya.

Bagi Anda penikmat kuliner mie, di kala berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) bisa menyantapnya di kantin Anjungan Aceh, yang menghadap ke danau miniatur.

Kepala Anjungan Aceh TMII, Cut Putri Alyanur mengatakan, selain mempromosikan seni budaya, anjungan ini juga menyajikan kuliner khas Aceh. Salah satunya, Mie Aceh yang cita rasanya sangat lezat.

“Penikmat kuliner Aceh bisa berkunjung ke Anjungan Aceh TMII, untuk menyantap Mie Aceh dan makanan khas lainnya,” kata Cut kepada Cendana News.

Menurutnya, menampilkan kuliner Aceh di anjungan ini merupakan strategi promosi wisata dalam rangka memperkaya khazanah budaya Aceh.

“TMII is the best, bukan hanya untuk Aceh tetapi untuk seluruh potensi wisata budaya dan kuliner nusantara Indonesia,” tukasnya.

Kenikmatan Cita Rasa Mie Aceh Tersaji di TMII

Muhammad Iqbal, pedagang Mie Aceh di kantin Anjungan Aceh TMII, mengaku sudah lima bulan berjualan Mie Aceh di anjungan ini.

“Jualan di sini untuk promosi biar makanan khas Aceh lebih dikenal oleh masyarakat daerah lain,” kata Iqbal kepada Cendana News.

Menurutnya, hampir setiap hari kantinnya ramai pembeli yang menikmati Mie Aceh. Baik itu warga Aceh yang berkunjung ke TMII maupun pengunjung dari daerah lain.

Bahkan karyawan managemen TMII dan anjungan daerah lainnya juga kerap mencicipi Mie Aceh di anjungan ini.

“Selain disantap di sini, mereka juga membelinya untuk dibawa pulang. Ada pengunjung yang ngadain acara di TMII, pesan Mie Aceh untuk santapan pesertanya ke kami,” kata Iqbal.

Mie Aceh dimasak dengan tiga pilihan sesuai selera, yaitu digoreng, tumis dan rebus dengan kualitas rasa tetap terjaga. Begitu pula kehigienisan bahan-bahannya.

Untuk pilihan rasa dapat dikondisikan juga sesuai selera, yakni pedas atau tidak pedas. “Satu porsi Mie Aceh ini dipatok Rp 15.000 rupiah, dengan kualitas rasa terjaga aroma rempahnya,” ujar Iqbal.

Dalam sehari, dia mengaku menghabiskan 10 kilo mie. Adapun mienya itu diolahnya sendiri tanpa bahan pengawet.

Mie Aceh ini berbahan tepung terigu, tepung tapioka, telur, garam halus dan air putih. Kemudian semua bahan itu dicampur rata. Lalu masukkan air sambil terus diuleni hingga adonan kalis dan rata.

Diamkan adonan hingga 20 menit. Lalu pipihkan dengan kayu penggiling adonan sedikit demi sedikit. Cetak adonan yang sudah pipih dengan mesin cetakan mie.

Setelah mie dicetak, lalu rajang dengan mesin perajang mie untuk selanjutnya direbus.

“Mienya dibuat sendiri tanpa bahan pengawet. Sehari 10 kilo mie, kalau Sabtu-Minggu bisa lebih,” jelasnya.

Menurutnya, cara memasak Mie Aceh ini sangat mudah. Pertama, panaskan minyak goreng dalam wajan, lalu masukkan daun bawang, daun seledri, tomat, toge dan kol hingga diaduk rata.

Kemudian masukkan air putih dan bumbu rempah-rempah yang telah digiling halus, seperti lada, cabai, kacang tanah, dan kemiri.

Setelah bumbu teraduk rata, lalu masukkan mie basah kedalam wajan itu dan masukkan kecap manis. Kemudian aduk lagi, dan tunggu hingga kuah mendidih.

Setelah Mie Aceh matang, lalu angkat dan sajikan diatas piring dengan ditaburi goreng bawang merah. Tambahkan acar, dan emping atau kerupuk di piring kecil.

Untuk menambah kelezatan biasanya ditambah irisan daging sapi atau daging ayam. “Meski tanpa irisan daging sapi, Mie Aceh yang dimasak ini cita rasanya sangat lezat, banyak pembeli yang ketagihan,” tukas Iqbal.

Rahasia nikmatnya Mie Aceh ini terletak pada bumbunya, yang merupakan warisan turun-temurun dari leluhur.

Menurutnya, provinsi Aceh memiliki ragam seni budaya, begitu pula kulinernya harus dilestarikan.

Dengan berdagang di TMII, dia merasa bangga karena bisa mempromosikan kuliner khas Aceh kepada pengunjung dari berbagai daerah.

“Harapan saya, semoga makanan khas Aceh makin dikenal oleh masyarakat Indonesia, dan TMII semakin jaya,” ujar Iqbal.

Adapun menu lain yang disajikan adalah aneka martabak telur, roti cane dan nasi goreng dengan cita rasa khas Aceh.

Sedangkan pelepas dahaga, pengunjung bisa menikmati kesegaran minuman khas Aceh, yaitu es timun serut.

Kopi sanger, yaitu kopi Gayo yang disaring lalu dipadukan dengan susu putih kental, juga bisa menjadi pilihan.

Begitu pula dengan kesegaran teh tarik yang disajikan dalam dua pilihan, dingin dan hangat.

“Es timun serut, kopi sanger, teh tarik dan martabak telur, ini banyak peminatnya. Harganya juga murah,” ujarnya.

Iqbal berharap kedepan semakin banyak pengunjung TMII yang menikmati kuliner khas Aceh ini.

Lihat juga...