Kemarau, Permintaan Alat Penampung Air di Lampung Selatan Meningkat

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Kemarau di Lampung Selatan berdampak pada peningkatan permintaan alat penampung air. Warga membutuhkan alat penampung air untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

Abukori, penjual alat penampung air menyebut, permintaan alat penampung air seperti tandon air, jeriken, ember, drum atau blong banyak diminati warga. Alat tersebut untuk menampung air yang dibeli atau bantuan.

Peningkatan permintaan dirasakan sejak awal Juni silam. Konsumen rata-rata berasal dari wilayah perbukitan, pesisir pantai yang mengalami kesulitan air bersih. Memiliki alat penampungan air saat ini menjadi kebutuhan yang sangat vital. “Usaha jual beli alat penampungan air sudah puluhan tahun saya tekuni karena wilayah Bakauheni yang berada di perbukitan sebagian pesisir kerap dilanda kekurangan air, warga sangat butuh alat penampungan air dengan berbagai jenis dan ukuran,”  ungkap Abukori saat ditemui Cendana News, Selasa (3/9/2019).

Meski permintaan meningkat saat kemarau, harga alat penampung air tidak naik. Alat penampungan air yang kerap diminati diantaranya ember yang dijual mulai harga Rp7.000, jeriken mulai harga Rp100.000, drum plastik atau blong seharga Rp220.000, tandon air kapasitas 1.500 liter seharga Rp1 juta.

Semua alat penampungan air terbuat dari plastik dan bahan bekas yang layak dipakai. Untuk bahan bekas pakai diantaranya ember bekas cat, bekas minyak dan gula. Ember yang dibeli dari sejumlah toko akan dibersihkan sehingga bisa digunakan sebagai alat penampung air. “Saat musim penghujan sebagian warga masih bisa mengandalkan sumur dan tandon air, namun saat air sumur kering kebutuhan air diperoleh dengan membeli atau menunggu bantuan,” papar Abukori.

Jenis drum atau blong plastik kerap diminati masyarakat untuk menampung air selama musim kemarau, Foto Henk Widi

Peningkatan permintaan terlihat dari jumlah barang yang terjual. Ember semula rata-rata terjual 40 buah perpekan. Kini bisa terjual 60 buah perpekan. Jeriken semula hanya laku 30 buah, kini bisa mencapai 50 buah. Jenis blong berukuran besar biasanya terjual 20 unit, kini bisa terjual sekira 30 unit.

Sementara tandon air, yang semula terjual 10 unit, saat ini bisa terjual 20 unit. Selain sebagai alat penampung air, ember, blong juga dimanfaatkan untuk wadah ikan hasil tangkapan. “Alat penampung air identik dengan kebutuhan air, namun di pesisir banyak diperlukan oleh nelayan dalam sejumlah kebutuhan,” cetusnya.

Samran, warga Dusun Keramat, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang menyebut, di kampung nelayan bantuan sumur bor, tandon air sangat membantu warga. “Karena kebutuhan saat kemarau meningkat pasokan air hanya mengalir pada jam tertentu sehingga saya harus mencari sumber air lain,” tuturnya.

Sumber air bersih yang dimanfaatkan adalah sumur pompa, yang merupakan milik salah satu perusahaan pengelola tambak udang. Selama kemarau Dia membeli sekira lima ember, tiga blong besar dan satu tandon air. Tandon air untuk menampung air yang dibeli. Blong besar digunakan untuk menanpung air yang diangkut dari sumur pompa. Meski tinggal di pesisir, keberadaan sumur pompa dan sumur bor bantuan membantu ketersediaan air bersih saat kemarau.

Lihat juga...