BPBD Purbalingga Sosialisasikan ‘Budarna’
Editor: Koko Triarko
PURBALINGGA – Banyaknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi selama musim kemarau ini, membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga merasa perlu memberikan peringatan kepada masyarakat. Warga diimbau untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa memicu terjadinya kebakaran.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga, Umar Fauzi, mengatakan, penting untuk mengingatkan masyarakat supaya berhati-hati dalam melakukan aktivitas yang bisa menimbulkan kebakaran.
Ia mencontohkan, aktivitas pembakaran sampah yang sering dilakukan masyarakat. Diharapkan, sebelum meninggalkan lokasi pembakaran sampah, warga diminta untuk memastikan api sudah padam.
“Selama musim kemarau ini banyak terjadi kebakaran, baik yang skala kecil maupun besar. Karena itu, waspadalah, jangan meninggalkan pembakaran sampah tanpa memastikan api sudah padam, kemudian jangan membuang puntung rokok sembarangan, terlebih dalam kondisi masih ada apinya. Selain itu juga periksa keamanan listrik di rumah masing-masing,” pesannya, dalam acara sosialisasi dan pelatihan Budaya Sadar Bencana (Budarna) di Desa Rajawana, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Kamis (26/9/2019).

Lebih lanjut Umar Fauzi memaparkan, sebagian besar kebakaran terjadi karena faktor kelalaian manusia, sehingga seharusnya hal tersebut bisa dicegah dengan membangun sikap kehati-hatian. Masyarakat harus mulai memupus kebiasaan-kebiasaan yang berpotensi menimbulkan kebakaran.
“Bapak-bapak, ingat ya jangan membuang puntung rokok sembarangan dan pastikan saat dibuang, putung rokok sudah dalam kondisi mati. Puntung rokok mungkin sepele, tetapi bisa menimbulkan kebakaran,” tuturnya.
Selain tentang kebakaran, pada sosialisasi tersebut, masyarakat juga diajak untuk memahami seputar bencana alam, seperti tanah longsor. Sesuai dengan topografinya, Desa Rajawana merupakan desa yang termasuk kategori rawan longsor. Masyarakat diajak untuk mengenal tanda-tanda awal bencana longsor, seperti munculnya rekahan tanah hingga pergerakan tanah.
“Kita ingin masyarakat desa bisa meningkatkan kapasitasnya, pengetahuan dan keterampilan, supaya dapat membaca alam, terutama untuk mengantisipasi terjadinya bencana,” kata Umar.
Sementara itu, Kasi Pelayanan di Desa Rajawana, Toni Dwihatmono, mengatakan, desanya sering terjadi kebakaran yang disebabkan kelalaian warga dan konsleting listrik. Selain kebakaran, Desa Rajawana juga pernah terjadi tanah longsor, meskipun masih dalam skala kecil.
Menurutnya, budaya sadar bencana warga Desa Rajawana sudah terbangun, hal itu dapat dilihat dari kekompakan warga saat menangani suatu bencana. Seperti ketika ada kebakaran, warga desa dan perangkat selalu bersama-sama turun untuk memadamkan api, sekalipun tengah malam atau dini hari. Pascakebakaran, warga juga akan bergotong-royong membersihkan puing-puing sisa kebakaran.
“Kita harus terus waspada dan saling mengingatkan, serta saling bergotong-royong saat terjadi bencana,” pungkasnya.