Warga Desa Watudiran – Sikka: Kapan Kami Diperhatikan?

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Lebih dari 1.000 jiwa terdiri dari sekitar 800 Kepala Keluarga di Dusun Kloangwarut, Napungdagar dan Leng di Desa Watudiran, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, hingga kini belum menikmati fasilitas listrik dan jalan.

“Yang menjadi masalah di sini, selain jalan juga listrik. Jaringan listrik sudah ada di jalan kabupaten sekitar 4 kilometer dari kampung ini, tapi tidak pernah sampai ke dusun kami,” kata Ambrosius Ambon, warga Dusun Warut, Desa Watudiran, Selasa (27/8/2019) sore.

Menurut Ambrosius, saat malam hari anak-anak sekolah dasar di dusun mereka tidak bisa belajar, karena tidak ada penerangan. Untuk penerangan di rumah, warga menggunakan lampu pelita (lampu minyak).

“Kami merasa dianaktirikan. Sampai sekarang pun kami kesulitan dan terisolasi, karena jalan yang rusak parah,” ujarnya.

Yakobus Jowe dan Ambrosius Ambon, warga Dusun Warut, Desa Watudiran, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, NTT. -Foto: Ebed de Rosary

Yakobus Jowe, warga Warut lainnya, menambahkan, selain listrik, jalan ke dusun mereka pun masih merupakan jalan tanah. Jalan tersebut hanya bisa dilewati saat musim panas, karena merupakan tanah liat.

Saat musim hujan, sebutnya, kendaraan sulit lewat. Warga pun kesulitan mengantar orang sakit dan ibu-ibu yang ingin melahirkan ke Poliklinik Desa (Polindes) sejauh sekitar 5 kilometer.

“Istri saya pernah melahirkan di jalan saat kami bawa pakai tandu hendak melahirkan ke Polindes. Banyak ibu-ibu yang melahirkan di tengah jalan, sebab jarak ke Polindes sangat jauh,” ungkapnya.

Dikatakan Yakobus, warga dusun mereka memiliki penghasilan utama dari komoditi kemiri dan kakao. Untuk menjual komoditi perkebunan ini, warga harus memikulnya sejauh 7 kilometer hingga ke pasar desa.

“Kami sampai sekarang belum merasa merdeka. Kami tanya kepada pemerintah, kira-kira apa yang akan dilakukan terhadap warga negara di tempat terpencil seperti kami?” tanya Yakobus.

Yakobus dan warga lainnya mengharapkan, ke depan pemerintah harus perhatikan mereka. Saat kampanye, Bupati Sikka saat ini, datang dan menjanjikan akan membangun jalan, listrik dan jaringan telepon seluler.

“Makanya kami menagih janji bupati Sikka, kira-kira kapan janji tersebut ditepati. Kami sangat kesulitan sekali dan seolah terpencil dan tanpa perhatian pemerintah,” ungkap Egedius Nong Jonson, warga Warut lainnya.

Egedius mengatakan, program listrik masuk desa di wilayah desa Watudiran sudah ada. Dirinya menyayangkan, warganya belum mendapatkan listrik, padahal sudah ada warga yang mendapatkan meteran listrik gratis dari PLN.

“Janji mau memberikan listrik tenaga surya juga tidak pernah terealisasi hingga saat ini. Makanya, kami menagih janji pemerintah, kapan kami bisa diperhatikan?” tegasnya.

Lihat juga...