Warga Bekasi Sukses Budi Daya Lele Sistem Filterisasi

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Dengan ketekunan dan keuletan, Muhammad Iqbal (44), sukses mengenalkan budi daya ikan lele sistem filterisasi dan akuaponik, atau yang lebih dikenal sebagai biogreen, karena dalam proses fermentasi pakan lele menggunakan metode probiotik biogreen.

Hal tersebut berawal sekira enam tahun lalu, ketika Iqbal, sapaan akrabnya, menjadi mitra plasma dari sebuah restoran besar yang sukses mengangkat ‘derajat’ ikan lele ke taraf resto. Dia pun berpikir keras, bagaimana caranya bisa menjaga kualitas lele, hingga akhirnya ia sukses mendirikan Farm 78 Bekasi di Jalan Bunga Sakura, Jatiasih Kota Bekasi, Jawa Barat.

“Saat itu saya putuskan biar restoran fokus mengurus di hilir dalam hal ini kuliner, dan saya mengurus di hulu, memperbaiki kualitas ikan lele,”ujar Iqbal, kepada Cendana News, Senin (26/8/2019).

Iqbal pun mencari refrensi hingga secara tidak sengaja menemukan artikel yang memuat referensi ikan Lele masuk kategori 10 ikan terbaik dunia. Saat itu, 2014, referensi tersebut membuat tekadnya menguat untuk mencoba berbagai cara dan riset, hingga akhirnya menemukan sistem filteriasi dan akuaponik.

“Intinya, lele ini kurang populer ternyata karena terkesan lele ini hitam, kotor, bau dan jorok, got, bahkan septitank dikaitkan dengan ikan lele. Tapi, mereka belum menyadari, bahwa di balik cerita itu semua, ikan lele mengandung protein tertinggi,” katanya.

Menurutnya, hasil dari uji lab, hasil dari dokter, bahkan menurut survei internasional, pun banyak di internet mengatakan, bahwa lele mengandung protein bagus bagi tubuh.

“Karena mindset-nya sudah rusak, hitam kotor bau dan jorok, tadi, maka saya mencoba membuat kolam yang apik, airnya bening. Itu yang memotivasi kami hingga menemukan sistem filterisasi yang modern ini,” tandasnya.

Dia menjelaskan, melalui sistem filteriasi ada proses sedimentasi terhadap kotoran ikan. Sedimentasi lumpur atau amoniak, atau kotoran ikan, dilewatkan melalui sistem filter.

Ada dua sistem filter, yakni mekanis dan biologis. Sistem mekanis akan melakukan proses pengendapan sedimentasi pertama. Sedangkan sistem biologis adalah rumahnya bakteri. Setelah melalui filter biologis, baru kembali ke kolam.

“Jadi, air sirkulasinya selama 24 jam. Kemenangan sistem ini bisa kombinasi ke tanaman, saya menyebutnya aquaponik atau rasponik jadi bertani ikan dan tanaman sayuran. Atau lebih dikenal sistem tanam hidroponik. Tetapi, ini menggunakan limbah kotoran ikan lele,” papar Iqbal.

Budi daya ikan lele metode itu, juga disebut metode biogreen, yakni salah satu metode budi daya Ikan yang baik (CBIB). Yakni, baik persiapan budi daya, proses budi daya, maupun panen.

“Intinya dengan metode ini, ikan lele yang dibudidayakan bebas dari kontaminasi bahan kimia dan biologi, serta aman dikonsumsi dan yang paling utama adalah untuk mengatasi masalah kolam kotor dan bau yang sering didengar terkait budi daya ikan lele. Bahkan, air kolam lele pun bisa dikonsumsi setelah melewati sistem filterisasi (penyaringan),” kata Iqbal.

Lebih lanjut dia mengatakan, bahwa untuk konstruksi kolam menggunakan besi warmes ukuran 6 milimeter, terpal bundar, kemudian karpet talang, konstruksi kolam di dasar kolam kemiringan kerucut 30 derajat. Tetapi, menjadi perhatian sistem  pipanisasi. Untuk satu kolam diameter dua, volume airnya 2,8 meter kubik, bisa diisi ikan sekira 2.000 ekor.

Dia mengklaim, melalui sistem tersebut sangat memperhatikan tingkat kelulusan hidup dan panen lebih cepat dan banyak. Untuk panen sejak pembibitan 60 hingga 75 hari.

“Untuk satu kolam, anggaran biayanya di bawah Rp5 juta, bisa untuk 2.000 ekor ikan lele. Ini sistem ekonomi umat, cara budi daya lele satu kolam satu rumah,” tukasnya.

Untuk itu, dia mengajak masyarakat yang ingin tahu lebih lanjut secara teknis, bisa belajar di farm 78. Karena ada teknik khusus budi daya, yakni ikan lele diberi susu bubuk hewani untuk ukuran tertentu.

Saat ini, Farm 78 miliknya di samping menyuplai warung pecel lele, juga menjual kepada warga sekitar dengan harga Rp25.000 per kilogramnya.

Berkat keuletannya, Iqbal sudah sampai ke Rusia untuk memberi pelatihan. Bahkan, dia sudah memiliki plasma dari Sabang sampai Merauke. Dia pun sudah membuat beberapa buku panduan yang bisa didapatkan di toko buku seluruh Indonesia.

“Saya banyak jadi pembicara, untuk berbagi ilmu teknik budi daya ikan air tawar. Karena sistem filterisasi, bukan khusus ikan lele saja, tapi semua ikan air tawar bisa dibudidayakan melalui sistem tersebut,” ungkapnya.

Iqbal mengaku tidak memiliki basic perikanan. Tetapi karena keuletan, ketekunan dan ingin belajar terus melakukan inovasi, dia pun sudah mendapat penghargaan Sertificat of Completion dari FAFI, yang ditandatangi oleh Kementerian Keluatan Perikanan RI dan Wageningen University and Reseach, Belanda.

Lihat juga...