Penyediaan Air Bersih, Masalah Utama Atasi ‘Stunting’ di Sikka

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Permasalahan air bersih banyak terjadi di berbagai wilayah desa dan kecamatan di kabupaten Sikka. Air bersih masih jadi kebutuhan dasar yang sangat menyulitkan warga Sikka terutama yang bermukim di wilayah pegunungan.

Banyak warga di beberapa kecamatan di kabupaten Sikka bahkan di sekitar kota Maumere saja masih mengandalkan air hujan untuk konsumsi sehari-hari. Tak heran, hampir setiap rumah selalu tersedia bak air berukuran besar untuk menampung air hujan.

Kristo Reliamus, manajer Bursa Inovasi Desa klaster 2 Sikka yang juga merupakan tenaga pendamping desa di kecamatan Talibura, kabupaten Sikka, NTT, saat ditemui Cendana News, Jumat (23/8/2019) – Foto: Ebed de Rosary

“Penyediaan air bersih merupakan hal yang utama dalam pengentasan stunting. Bicara stunting maka kebutuhan air bersih warga harus dipenuhi terlebih dahulu,” kata Kristo Reliamus, manajer Bursa Inovasi Desa klaster 2 Sikka, Jumat (23/8/2019).

Tetapi Kristo menegaskan agar perencanaannya tidak bisa setengah-setengah. Apalagi bicara stunting kata dia, berkaitan juga dengan 5 pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

“Terkait pengentasan stunting,  persoalan utama yakni air bersih. Meskipun MCK tersedia dan dibangun melalui bantuan dana desa tapi kalau air bersih tidak ada maka percuma saja,” tegasnya.

Banyak desa di 6 kecamatan di kluster 2 yakni Waigete, Talibura, Waiblama, Doreng, Bola dan Mapitara kata Kristo, belum tersedia air bersih yang memadai untuk konsumsi warganya.

“Soal stunting desa sudah melakukan banyak intervensi termasuk dana melalui APBDes. Termasuk juga dari dinas Kesehatan melalui Puskesmas dan Polindes. Dokter, bidan dan perawat setiap bulan melakukan kunjungan rumah, melakukan pendampingan,” kata dia.

Sebagai pendamping desa, dirinya melihat permasalahan stunting ini bukan soal dana tetapi perilaku. Kalau untuk pembangunan infrastruktur hak dasar di bidang kesehatan terus didorong untuk mempergunakan dana desa.

“Penanganan gizi buruk juga sudah dilakukan mulai penyuluhan dan bantuan makanan tambahan. Terkadang juga makanan tambahan yang harusnya buat balita malah dikonsumsi anggota keluarga yang lain,” tuturnya.

Di klaster 2 terang Kristo, hasil replikasi di tahun 2018 lebih kepada aspek pengentasan stunting, tentang pola bagaimana mengatasi stunting. Kecamatan Talibura, Waiblama dan Waigete merupakan daerah dengan angka stunting tinggi.

“Di kecamatan Talibura saja, dari total 1.706 anak balita, ada sekitar 20 persen mengalami stunting. Jadi sekitar 546 anak menderita stunting di kecamatan ini,” paparnya.

Wakil bupati Sikka, Romanus Woga mengatakan, ke depan diharapkan pemanfaatan dana desa harus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Khususnya peningkatan pelayanan sosial dasar baik pendidikan maupun kesehatan.

“Kita harus bekerja keras dan memastikan setiap anak di desa dapat lahir dengan sehat, dapat tumbuh dengan gizi yang cukup, dan bebas dari stunting,” pesannya.

Disamping itu, tandas Romanus, penekanan isu pelayanan sosial dasar (PSD) dalam konteks kualitas SDM ini, juga untuk merangsang kepekaan desa terhadap permasalahan krusial terkait pendidikan dan kesehatan dasar. Terutama penurunan stunting di tingkat desa.

“Kegiatan pemberdavaan masyarakat desa, pengembangan potensi ekonomi lokal dapat menumbuhkan kewirausahaan di desa. Serta pembangunan infrastruktur  berdampak terhadap peningkatan produktivitas ekonomi masyarakat desa,” sebutnya.

Lihat juga...