Masyarakat Bakauheni Minta Akhiri Aktivitas Membuang Sampah di Jalintim
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Kemunculan sampah di sepanjang Jalan Lintas Timur (Jalintim) menjadi kegusaran warga Bakauheni, Lampung Selatan. Di antaranya di Dusun Kenyayan, Dusun Muara Piluk, Dusun Muara Bakau.
Lokasi pembuangan sampah liar di Muara Bakau disebut Sugiono, warga setempat muncul sejak tiga tahun terakhir. Awalnya ia melihat hanya ada satu titik, namun teruts bertambah banyak.
“Sebagai warga yang tinggal di dekat lokasi kami sangat terganggu karena lingkungan yang seharusnya bersih malah menjadi pembuangan sampah liar. Aroma busuk kerap muncul karena ada sampah dari pasar,” ungkap Sugiono saat ditemui Cendana News, Rabu (28/8/2019)
Sugiono yang sekaligus salah satu ketua rukun tetangga (RT) menyebut telah mengimbau warga agar tidak membuang sampah sembarangan. Sebab di wilayah Muara Bakau, sungai yang menjadi lokasi pembuangan beberapa kali mengakibatkan banjir.
“Berbagai tulisan imbauan tidak digubris malah papan dirusak sehingga aktivitas pembuangan sampah berlanjut,” papar Sugiono.
Sugiono menambahkan kesadaran masyarakat membuang sampah yang masih rendah harus terus diingatkan. Sejumlah kejadian banjir di Kenyayan, Pegantungan dan Muara Bakau tidak bisa dipungkiri sebagian akibat sampah. Meski pemerintah desa telah menerapkan peraturan desa (Perdes) denda sebesar Rp350.000, namun sanksi tegas tersebut tidak diindahkan.
“Pembuang sampah di lokasi tepi Jalintim kerap melakukan aktivitas malam hari hingga subuh sehingga tidak bisa diketahui,” ungkap Sugiono.

Berbagai kasus aktivitas pembuangan sampah yang dipergoki menurut Sugiono justru berasal dari luar Bakauheni. Oknum warga yang membuang kerap sengaja sudah membawa sampah dalam wadah plastik, karung dari rumah.
Berdasarkan jenis sampah yang dibuang, ia memastikan sebagian bisa dilacak. Sebab ada sampah tulang belulang bekas pemotongan sapi, bulu ayam yang bisa dipastikan dari pasar.
Kepala Desa Bakauheni, Sahroni, menyebut sudah kerap melakukan sosialisasi kebersihan lingkungan. Sosialisasi tersebut penting karena wilayah Bakauheni sebagian rentan banjir saat musim penghujan.
Kala musim kemarau ia menyebut menjadi waktu tepat membersihkan sampah. Langkah gotong royong di sejumlah lingkungan menurutnya menjadi solusi awal agar tidak dibuang sembarangan.
“Khusus untuk sampah pasar, UPT Pasar Bakauheni menggunakan mobil sampah namun masih ada oknum membuang sampah sembarangan,” ucapnya.
Selain menerapkan sistem denda menegakkan Perdes, Sahroni mengajak setiap aparat RT dan RW gencar lakukan kegiatan kebersihan lingkungan. Cara gotong royong menurutnya menjadi solusi awal dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Di wilayah Bakauheni yang memiliki TPA disebutnya masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Namun masyarakat memilih jalan pintas dengan membuang sampah di titik pembuangan sampah liar.