Masyarakat Bakauheni Gencarkan Konservasi Kawasan Pesisir
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Masyarakat Bakauheni terus melakukan konservasi berbagai jenis pohon mangrove untuk memperkaya vegetasi pantai, serta menjaga kelestarian sejumlah satwa liar jenis burung.
Eko Prapto, warga sekaligus pengelola objek wisata pantai Tanjung Tuha Pasir Putih menyebut pelestarian mangrove sudah dilakukan beberapa tahun terakhir.
“Bersama sejumlah elemen masyarakat, pegiat wisata, Kementerian Kelautan, pemuda kami terus mengembalikan vegetasi alami yang sempat rusak akibat perburuan tanaman untuk koleksi bonsai yang mengakibatkan punahnya sebagian tanaman langka,” papar Eko Prapto saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (28/8/2019)
Vegetasi mangrove di kawasan pantai Tanjung Tuha Pasir Putih diakui Eko Prapto sangat beragam. Sebagai lingkungan pesisir yang cukup kaya, wilayah tersebut memiliki kontur bebatuan, pasir dan lumpur. Bentang alam yang mendukung menjadi habitat pohon setigi (Pemphis acidula), api api (Avicennia), bakau (Rhizophora), mangrove merah (Mangle), pidada (Sonnerita), putut (Bruguiera gymnorrhiza).
“Sejumlah tanaman bahkan menjadi tanaman langka yang jarang ditemui,” tambahnya.
Selain berbagai jenis tanaman endemik yang memperkaya vegetasi pantai, sejumlah satwa liar jenis burung juga dilestarikan di kawasan tersebut. Selain itu jenis tanaman kelapa, pandan laut, kemiri laut, cemara udang dan tanaman penahan abrasi juga dipertahankan.
“Sebagian pohon mangrove diregenerasi melalui biji dengan penyemaian memakai polybag,” tambahnya.
Perjuangan Eko Prapto dan masyarakat menurutnya kerap mendapat tantangan. Sebab sebagian pencuri tanaman mangrove jenis setigi untuk bonsai kerap bekerja malam hari.
“Pencurian menggunakan gergaji mesin, golok dan peralatan lain,” katanya.
Upaya pendekatan persuasif sudah kerap dilakukan meski pencurian terus dilakukan. Selanjutnya koordinasi dengan kepolisian perairan Polres Lamsel berhasil menghentikan perburuan setigi yang mulai langka.

Sejumlah tanaman pesisir menurutnya butuh waktu untuk tumbuh normal. Sebagian bahkan membutuhkan waktu bertahun tahun. Konservasi pohon di pantai yang digencarkan sekaligus upaya mitigasi bencana.
“Usai bencana tsunami 22 Desember 2018 silam pohon di pesisir pantai terus ditambah karena terbukti menjadi penghalang ombak,” kata Eko Prapto.
Dukungan dari KKP terkait konservasi pantai Tanjung Tuha diakui oleh Tri Suyanto. Sebagai petugas penyuluh perikanan dari KKP ia menyebut vegetasi pantai Tanjung Tuha sangat kaya.
“Isu isu kerusakan lingkungan pesisir dan kerusakan akibat sampah harus dicegah dan KKP terus mendukung konservasi,” tegas Tri Suyanto.
Bantuan berupa pendampingan, pemberian polybag serta sarana lain dilakukan berkelanjutan. Bentang alam yang unik di pantai Tanjung Tuha Pasir Putih sebut Tri Suyanto akan menjadi percontohan upaya masyarakat melakukan konservasi.