Mahasiswa Pascasarjana UIN Mataram Diminta Kreatif

Editor: Koko Triarko

MATARAM – Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Nusa Tenggara Barat, Prof. Dr. Suprapto, M.Ag., mengatakan, memasuki era industri revolusi, mahasiswa pascasarjana dituntut bisa kreatif, melalui keilmuan didapatkan, agar bisa menghadapi perubahan zaman.

“Dalam mengembangkan keilmuan, harus bisa membuat sesuatu yang menantang, unik dan bisa membuat orang tertarik untuk membaca hasil penelitian yang dilakukan,” kata Suprapto, di acara pembekalan mahasiswa Pascasarjana UIN Mataram, Kamis (29/8/2019).

Ia berharap, agar jangan sampai penelitian dilakukan hanya bersifat teknis, bagaimana cara mengajar, apalagi sekadar memenuhi persyaratan mendapatkan nilai dan gelar akademik, dengan cara copy paste, jelas tidak menantang.

Menurutnya, cakupan harus lebih makro, misalkan bahasa Arab dan pariwisata, pemberdayaan nelayan, serta bidang penelitian sosial budaya lain, didukung dengan kemasan bahasa serta diksi menarik. Itulah yang membedakan mahasiswa pasca dengan mahasiswa S1.

“Mau tidak mau, kita sudah masuk era industri, dan terus berubah, maka agar tidak tertinggal dengan perubahan zaman, harus bisa menyesuaikan” katanya.

Lebih lanjut, penulis buku “Semerbak Dupa di Pulau Seribu Masjid” tersebut mencontohkan, bagaimana perubahan akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian cepat di berbagai bidang dan sektor, yang bisa dengan mudah didapatkan melalui akses internet.

Bagaimana informasi tentang suatu peristiwa, dulu baru bisa diketahui melalui koran setelah esok harinya, sekarang dalam hitungan menit, sudah bisa diketahui melalui media online dan media sosial lain.

“Kemajuan teknologi juga menyebabkan banyak terjadi pengurangan kerja, hanya tenaga kreatif, pendidikan, kontruksi dan jasa, termasuk komunikasi yang akan masih bisa bertahan,” katanya.

Rektor UIN Mataram, Prof. Mutawali, menambahkan, alumni Pasca kalau serius belajar dan mengembangkan keilmuan dimiliki nantinya, meski di Mataram, tapi berpikiran global, bisa mengalahkan alumni kampus ternama di Indonesia, bahkan di dunia.

“Untuk itu, kuliah seharusnya tidak sekadar orientasi ke nilai dan gelar akademik, tapi bagaimana membangun jaringan, sosial, dan skill,” pungkasnya.

Lihat juga...