Dosen dan Mahasiswa UB Bantu Periksa Kesehatan Hewan Kurban

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Ratusan mahasiswa dan dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Brawijaya (UB) diberikan pembekalan terkait pemeriksaan kesehatan hewan kurban. Mereka akan disebar tidak hanya di wilayah Malang raya, tetapi juga dapat melakukan pemeriksaan hewan kurban di tempat mereka berasal.

Wakil dekan bidang akademik FKH UB, drh. Dyah Ayu Oktavianie AP., M. Biotech, menyampaikan, sebenarnya pemeriksaan kesehatan hewan kurban di wilayah Malang raya sudah rutin dilakukan sejak tahun 2008. Hanya saja sejak dua tahun terakhir ini sudah ada tambahan lokasi pemeriksaan yakni di Mojokerto.

Wakil Dekan FKH, drh. Dyah Ayu Oktavianie AP., M. Biotech, usai menghadiri workshop kesehatan hewan kurban dan pelepasan petugas pemeriksa kesehatan hewan di gedung Kebudayaan Mahasiswa Universitas Brawijaya, Senin (5/8/2019). Foto: Agus Nurchaliq

“Kemudian tahun ini ada tambahan lokasi lagi yaitu di Lamongan, Blitar dan Pasuruan,” sebutnya usai menghadiri workshop kesehatan hewan kurban sekaligus pelepasan petugas pemeriksa kesehatan hewan di gedung Kebudayaan Mahasiswa UB, Senin (5/8/2019).

Dikatakan Dyah, walaupun secara resmi FKH UB mengirimkan petugas pemeriksaan hewan kurban ke lokasi tersebut, tetapi ada juga mahasiswa atau dosen yang bisa melaksanakan pemeriksaan hewan kurban di daerah asalnya. Dengan sistem pelaporan online, nantinya mereka bisa mengisi form untuk melaporkan data kasus yang ditemukan pada saat pemeriksaan hewan kurban di daerahnya masing-masing, berikut juga data pendukung berupa foto dan yang lainnya.

“Tentu saja daerah asal mahasiswa beragam. Bukan hanya di daerah Malang atau Jawa Timur saja, tapi juga mungkin ada yang di luar Jawa atau ada juga yang dari Jawa Tengah atau di Jawa Barat. Sehingga harapannya , cakupan pemeriksaan hewan kurban kita bisa di seluruh Indonesia sesuai dengan asal dari mahasiswa tersebut,” terangnya.

Bagi petugas yang bertugas di wilayah kota Malang kota Batu, Mojokerto, Lamongan Blitar dan Pasuruan, akan diberikan penanda berupa namtag. Sedangkan bagi mereka yang melakukan pemeriksaan di tempat asalnya, akan diminta untuk melapor kepada FKH UB agar bisa dibuatkan surat keterangan bahwa memang mereka ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan hewan kurban di daerahnya masing-masing.

“Jadi ada kurang lebih 716 petugas pemeriksa hewan kurban yang akan diterjunkan yang terdiri dari mahasiswa dan dosen FKH UB. Namun jumlah tersebut belum termasuk mahasiswa yang melakukan pemeriksaan di daerah asalnya masing-masing,” sebutnya.

Lebih lanjut menurut Dyah, nantinya temuan-temuan yang didapatkan dari pemeriksaan tersebut, hasilnya akan dilaporkan ke dinas terkait. Selain itu, sebagai dokter hewan mereka juga dibekali tentang bagaimana penanganan untuk organ yang tidak layak dikonsumsi.

“Mungkin perlu diafkir atau mungkin perlu untuk dilakukan penanganan khusus supaya tidak sampai menyebarkan penyakit kepada masyarakat,” ucapnya.

Untuk pemeriksaan antemortem, biasanya dilakukan H-1 ketika hewan itu datang, sudah harus segera diperiksa dari klinisnya, apakah dia sehat atau tidak. Terutama untuk hewan betina karena ada larangan penyembelihan bagi hewan betina produktif.

“Jadi nanti jika ditemukan hewan yang seperti itu, maka kita berikan rekomendasi untuk tidak disembelih,” ujarnya.

Sementara itu disampaikan Dyah, untuk materi yang diberikan pada workshop hari ini, lebih banyak memberikan materi pembekalan tentang bagaimana teknik pemeriksaan hewan kurban. Termasuk dari halal center, yang memberikan materi tentang bagaimana penyembelihan hewan kurban yang syari sesuai dengan syariah Islam sehingga benar-benar dipastikan kehalalannya.

Selain itu juga ada materi teknis untuk penyembelihan hewan dengan cara memperhatikan atau dengan cara menguatkan sistem kesejahteraan hewan.

“Supaya hewan itu hidupnya benar-benar bisa ditangani dengan baik mulai dari handeling sampai dijatuhkan, sampai penyembelihan itu benar-benar sesuai dengan kode etik yang ada di kedokteran hewan,” sebutnya.

Sedangkan untuk periksaan phosmortem dan antemortem disampaikan dosen FKH terkait. “Misalnya bagaimana pemeriksaan organ-organ yang ada di hewan kurban tersebut. Termasuk untuk mengidentifikasi kelainan-kelainan yang ada pada hewan kurban,” pungkasnya.

Lihat juga...