Sampah Juga Menjadi Masalah di Daerah Tertinggal
Editor: Koko Triarko
AGAM – Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatra Barat, menggelar sosialisasi pengelolaan sampah kepada masyarakat di Jorong Sungaipuar, Kenagarian Sungaipuar, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.
Kasi Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatra Barat, Dasril, mengatakan, Nagari Sungaipuar merupakan salah satu desa/nagari di Kabupaten Agam yang tergolong daerah tertinggal. Untuk itu, sosialisasi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan, dan mengelola sampah dengan benar.
Ia menyebutkan, persoalan sampah tren sekarang tidak hanya datang dari wilayah perkotaan, tapi kini buruknya kondisi lingkungan juga merambah ke wilayah perdesaan. Hal tersebut tidak lepas dari rendahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan.
“Kalau di perkotaan penyebab banyaknya sampah, akibat dari aktivitas pertokoan, kunjungan masyarakat, dan berbagai aktivitas lainnya. Sementara di pedesaan, juga tidak bisa dipungkiri, bahwa sampah masih terjadi, terutama untuk sampah organik,” katanya, saat menyampaikan materi sosialisasi kepada masyarakat yang hadir di Kantor Wali Nagari Sungaipuar, Selasa (30/7/2019).
Dasril menjelaskan, pembahasan yang disampaikan dalam sosialisasi meliputi tentang pemahaman sampah, aturan yang mengingkat tentang sampah, dan tata cara pengelolaan sampah.
Menurutnya, selama ini mungkin saja masyarakat belum begitu tahu bahwa ada aturan tentang sampah, serta banyak solusi untuk mengatasi persoalan sampah.
“Dinas Lingkungan Hidup menginginkan agar masyarakat dapat mengenal pentingnya menjaga lingkungan. Karena, kini sampah sudah bisa menghasilkan uang, bahkan bisa memiliki tabungan emas,” ujarnya.
Dikatakannya, aturan yang perlu dipatuhi oleh masyarakat, seperti UU Nomor 32 Tentang dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Setidaknya ada 6 poin aturan yang mengatur tentang sampah tersebut. Untuk itu, ada kewajiban yang harus dilakukan oleh masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Kewajiban masyarakat tersebut, antara lain mengurangi dan menangani sampah. Dalam aturan yang ada, disebutkan membuang sampah dan membakar sampah dinilai melanggar aturan yang ada. Untuk itu, sangat dianjurkan bagi masyarakat untuk mengolah sampah.
“Sebenarnya banyak manfaat dalam menjaga lingkungan. Misal, dapat meningkatkan kesehatan masyarakat, meningkatkan kualitas lingkungan, dan menjadi sumber daya,” jelasnya.
Menurutnya, solusi yang dapat dilakukan itu agar sampah terkelola dengan baik. Seperti membentuk Bank Sampah. Sejauh ini, Bank Sampah belum begitu banyak tersebar, terutama di daerah pedesaan. Bank Sampah bertujuan untuk menampung sampah masyarakat yang dapat didaur ulang, dan masyarakat menerima imbalan dalam bentuk uang atau tabungan.
“Sebagai kelanjutan dari kegiatan ini, saya berharap masyarakat di sini bisa membuat Bank Sampah. Kita dari provinsi tentu mendukung. Keuntungannya seperti yang saya sebutkan tadi, dampak lingkungan dapat, dampak terhadap segi finansial juga dapat. Saya lihat di Nagari Sungaipuar punya potensi itu, meski merupakan daerah tertinggal,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatra Barat, Nova, menambahkan, kegiatan sosialisasi juga dilakukan dalam rangka mendukung kegiatan TMMD TNI di Sungaipuar.
“Untuk TMMD ini, kami diwajibkan berpartisipasi dalam kegiatan. Untuk itu, dilakukan sosialisasi pengelolaan sampah dan kampung iklim,” sebutnya.
Ia menjelaskan, terkait materi yang disampaikan oleh dua orang narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup, sebenarnya memberikan pengertian kepada masyarakat agar dapat mengelola sampah dan dimanfaatkan lagi.
Begitu juga untuk sosialisasi kampung iklim, yang sebenarnya merupakan program dari Kementerian Lingkungan Hidup. Sehingga melalui kegiatan tersebut, akan ada rencana untuk membentuk kampung iklim di Sungaipuar.
Pada kesempatan tersebut, Wali Nagari Sungaipuar, Nofriadi, mengajak masyarakatnya untuk menjaga lingkungan mulai dari lingkungan rumah masing-masing penduduk.
Setidaknya, dengan adanya sosialisasi tersebut, dapat mengubah pola pikir masyarakat untuk menjaga lingkungan, dan dapat mewujudkan suasana yang lebih nyaman.
“Di Nagari Sungaipuar ini penduduknya berjumlah 2.300 jiwa, dengan profesi warga sebagian besar adalah petani. Saya rasa perlu untuk mengajak masyarakat, dalam menjaga lingkungan ini,” tegasnya.