Kemarau, Permintaan Jasa Traktor di Lamsel Alami Penurunan
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Musim kemarau yang mulai melanda wilayah Lampung Selatan (Lamsel) mulai berimbas pada sektor pertanian. Kurangnya pasokan air yang membuat petani enggan menggarap lahan sawah ikut mempengaruhi jasa penyewaan traktor.

Totok, petani sekaligus pemilik alat dan mesin pertanian (alsintan) menyebut saat tiba kemarau, petani memilih istirahat. Pada kondisi normal, musim tanam diawali dengan proses pengolahan lahan sawah. Ia kerap melayani petani yang memakai jasa dalam pengolahan lahan menggunakan traktor tangan.
Pada musim pengolahan lahan, sebagai penyedia jasa traktor, Totok menyebut bisa melayani sekitar 8 hingga 10 lahan milik petani. Proses pengerjaan yang cepat dengan traktor bahkan membuat ia bisa melayani hingga 15 bidang sawah. Satu bidang sawah menyesuaikan luasan pemilik lahan dibebankan biaya sekitar Rp350.000 hingga Rp500.000. B
“Saat musim kemarau atau masa tanam gadu, hanya ada sejumlah bidang lahan sawah yang bisa digarap terutama yang dekat saluran irigasi,s isanya dibiarkan kering,” ungkap Totok saat ditemui Cendana News, Selasa (2/7/2019).
Meski sebagian lahan sawah bisa dijadikan tempat untuk menanam sayuran, petani lain membiarkan sawah tidak digarap. Kemarau yang diprediksi masih akan berlangsung hingga Agustus mendatang membuat petani enggan mengambil resiko.
Sutrisno, salah satu petani yang kerap memakai jasa traktor menyebut masih menggarap lahan sawah meski kemarau. Mengandalkan saluran air irigasi dari Gunung Rajabasa, ia membendung sungai kecil yang bisa dimanfaatkan untuk pengairan. Tahap pertama proses pengolahan dilakukan dengan ngelep atau merendam sawah dengan air.
“Sawah harus direndam dulu dengan air sebelum ditraktor agar tidak keras setelah terimbas kemarau,” ungkap Sutrisno.
Menggunakan jasa traktor saat kemarau atau musim tanam gadu lebih mudah. Sebab pemilik usaha tidak melayani banyak permintaan dibandingkan saat musim hujan.
Saat musim tanam gadu, penggunaan traktor disebutnya bisa mempercepat proses pengolahan. Sebab pengolahan yang cepat selain untuk efisiensi lahan bisa menghemat penggunaan air.
Penggunaan air saat kemarau diakuinya dilakukan dengan sistem bergilir setiap petak sawah. Saat petak sawah diolah dengan memakai air bagian atas,maka air akan dialirkan pada bagian bawah sehingga penggunaan air bisa dimaksimalkan.