BAZNAS: ‘Kurban Berdayakan Desa’ Muliakan Peternak Mustahik

Editor: Koko Triarko

Kepala Divisi Pendayagunaan BAZNAS, Randi Swandaru, pada sosialisasi Kurban Berdayakan Desa di Kantor BAZNAS Pusat, Jakarta, Rabu (3/7/2019) sore. -Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) diamanahkan untuk mengelola dana zakat, infak, dan sedekah, termasuk dana sosial keagamaan. Di dalamnya ada program Kurban Berdayakan Desa untuk memuliakan mustahik peternak.

Kepala Divisi Pendayagunaan BAZNAS, Randi Swandaru, mengatakan, Kurban Berdayakan Desa, dakwahnya bukan sekadar mengajak orang untuk berkurban. Karena ibadah itu ada konteksnya. Bahwa, setiap helai rambut dari ternak itu dibalas kebaikannya.

“Jadi yang kita dakwahkan kepada masyarakat bukan sekadar memotong kambingnya saja sebagai konteks ibadah. Tetapi, intensif kalau kita kurban,” kata Randi, pada sosialisasi Kurban Berdayakan Desa, di Kantor BAZNAS Pusat, Jakarta, Rabu (3/7/2019) sore.

Bila kurbannya di desa, maka menurutnya, kegiatan itu bisa memindahkan kekayaan dari kota ke desa. Sehingga ada intensif yang diberikan kepada masyarakat yang ada di desa.

Dalam pemberdayaan mustahik peternak, BAZNAS telah membentuk Lembaga Pemberdayaan Peternak Mustahik (LPPM). Program ini menjadi sebuah unit yang fokus memberdayakan peternak yang sangat rentan terhadap kemiskinan.

Ia menjelaskan, peternak ini juga dalam konsep zakat itu, pemindahan atau reditribution of develompent. “Ini bentuknya apa? Kalau sekadar kita berkurban di kota, lalu kita bagikan di desa, itu kan jangka pendek, orang itu akan menerima daging yang halal, toyib dan bergizi,” ujarnya.

Namun dalam jangka panjang, sebetulnya momen kurban sekali pun dengan adanya lembaga peternak mustahik itu kita melakukan distribusi yang lain. Contohnya, kata Randi, para peternak mustahik itu mendapatkan bibit yang baik.

“Mungkin susah dapat bibit ternak yang baik. Maka LPPM, salah satu fungsinya adalah pemulihan ternak jantan. Jadi, kita ambil bibit jantan terbaik,” tuturnya.

Kemudian ternak jantan itu dikawinkan dengan bangkalan-bangkalan yang ada di Balai Ternak (BT). Ada sekitar 21 BT yang BAZNAS besarkan di Indonesia.

Jadi, tegas dia, redistribusion of development itu bukan cuma uang, tapi bibit terbaik. Sehingga secara jangka panjang, mereka menghasilkan ternak-ternak terbaik di wilayah itu.

Bahkan, menurutnya, di luar program BAZNAS sekali pun mereka akan terdampak. “Restribusi ini masuk juga dalam aspek pengalih teknologi dan pengetahuan. Jadi, selama ini mereka nggak ngerti. Contoh yang kita lihat ada kambing yang begitu kurus sekali, karena ternyata makannya mungkin bulunya sendiri, jadi kurang mineral,” ujarnya

Contoh lainnya lagi, kata Randi, sapi yang sudah mau birahi berapa lama rentan waktunya. Kalau peternak tidak dikasih tahu teknologi, tentu mereka akan kehilangan kesempatan untuk lebih banyak pengetahuan dalam pengembangan ternaknya.

Dengan program LPPM BAZNAS ini, para peternak tersebut akan diberi pendampingan dan pelatihan dalam memelihara ternaknya.  Kemudian bentuk lain dari redistribution of develompent ini, BAZNAS juga membantu mereka membukakan pasar.

“Nah, bentuk Kurban Berdayakan Desa bukan untuk pasar. Kita membantu mereka untuk memasarkan ternaknya. Sehingga mereka dapat margin yang lebih besar,” tukasnya.

Untuk jangka panjang, program ini diharapkan dapat mengatasi berbagai masalah. Baik itu secara gizi dengan asupan protein dari daging ternak kurban itu bisa mengangkat penurunan kemiskinan yang ada di Indonesia.

Ada pun secara ekonomi, yakni peningkatan penghasilan mereka. Randi juga berharap, ada kedaulatan pangan dari program ini.

“Mungkin kedaulatan pangan bisa tercapai tentunya dengan bantuan stakeholders. Tapi kita ingin munculkan, bahwa zakat hadir dan membela masyarakat mengawali langkah mimpi besar kedaulatan pangan bisa diraih dengan berzakat, berdonasi dan infak, sehingga peternak ini jadi berdaya dan bisa menghidupi keluarga,” ungkapnya.

Selain itu, tambah dia, BAZNAS juga hadir dengan hasil riset, yakni bagaimana dampak terhadap program pemberdayaan mustahik dalam kehidupan mereka.

“Apakah ada perubahaan yang terjadi? Jadi bukan sekadar memenuhi memotong atau menyembelih kurban, tetapi lebih melihat dampaknya terhadap desa yang BAZNAS bina.” Katanya.

Sehingga, dengan program ini harapannya masyarakat itu makin terbuka. “Bahwa kalau itu bisa ditunaikan lewat lembaga zakat yang resmi seperti BAZNAS, maka lebih banyak orang yang terjangkau untuk berkurban mendapatkan kebaikan,” tutupnya.

Lihat juga...