Produk Sepatu Minang Kayo, Berani Digaransi Setahun Pemakaian

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG PANJANG – Wisatawan mancanegara asal Negara Malaysia, tidak begitu asing lagi dengan tempat Galeri Minang Kayo, yang berada di Kota Padang Panjang, Provinsi Sumatera Barat.

Hal ini dikarenakan produk dari kulit yang dihasilkan oleh Minang Kayo ini, telah tersohor luas hingga ke luar negeri.

Galeri Minang Kayo yang menampilkan sejumlah produk yang terbuat dari kulit hewan seperti sapi, domba, dan ular ini, mendapat kepercayaan yang sangat besar bagi pelanggannya.

Pemilik Minang Kayo, Masroni, mengatakan, produk yang dijualnya ini dijamin kulit asli dari kelas 3 hingga kelas 1. Produknya juga dijamin kulit asli lokal dan juga berasal dari berbagai daerah di tanah Jawa.

Bahkan untuk produk sepatu kulit, Masroni menyatakan berani menjamin tidak bakal rusak selama satu tahun pemakaian. Apabila rusak, pelanggan bisa menukarkannya ke Galeri Minang Kayo.

Pemilik Minang Kayo, Masroni (kanan) tengah berbincang bersama Kasubag Tata Usaha Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat, Yusran Ance, saat mengunjungi Galeri Minang Kayo dalam rangka kegiatan FamTrip Dinas Koperasi dan UKM/Foto: M. Noli Hendra

Ia menjelaskan, alasan dirinya berani menjamin pemakaian selama satu tahun, karena kulit yang digunakan kulit asli, jahitan bagus dan rapi, tapak sepatu yang digunakan ringan, dan lem yang digunakan adalah lem terbaik.

“Khusus sepatu kulit saya ini, dijamin tahan untuk dipakai sehari-hari. Ada berbagai model sepatu kulit yang saya produksi, mulai dari jenis bots hingga ke model formal. Nah di galeri saya ini banyak produk yang dibuat dari bahan kulit lainnya, seperti jaket, tas, topi, ikat pinggang, dompet, sendal, gantungan id card, dan kopiah,” ujarnya, Jumat (21/6/2019).

Ia menyebutkan untuk harga dari masing-masing produknya itu bervariasi. Seperti untuk tas pria dan wanita, mulai dari Rp200.000 hingga ke Rp2 juta. Sepatu Rp300.000 hingga Rp2 juta. Lalu untuk jaket, mulai dari jaket jenis kulit kelas 3 Rp1,5 juta hingga untuk jaket kulit kelas 1 Rp3 juta.

Dengan mematok harga yang demikian, ternyata Minang Kayo memiliki pelanggan yang cukup banyak. Buktinya omzet per bulan yang diperoleh Masroni mencapai Rp300 juta.

Kebanyakan pelanggan Minang Kayo, karena galeri tersebut mengedepankan kualitas dan layanan yang ramah kepada setiap pelanggan yang datang ke Galeri Minang Kayo di Kota Serambi Mekah ini.

“Bagi saya datang saja ke Galeri Minang Kayo sudah sangat membuat saya dan pekerja lain merasa senang, meskipun orang yang datang tidak berbelanja. Bahkan banyak sekedar berfoto saja. Bagi saya siapa pun bebas mau datang ke sini,” katanya.

Selain mengutamakan kualitas dan layanan, di Galeri Minang Kayo ini juga menerima pesanan dalam bentuk satuan, meskipun itu hanya memesan satu gantungan id card saja.

Bahkan, jika ada pemesan yang menelepon hendak berangkat ke bandara dan ingin membeli sepatu kulitnya, tapi tidak sempat ke Galeri Minang Kayo, maka dari Minang Kayo tetap melayani pelanggannya, dengan cara mengantarkan barang pesanan tersebut hingga ke bandara, walaupun sepasang sepatu.

Masroni menceritakan, hal lain menekankan pentingnya mengedepankan kualitas dan layanan itu, karena semua itu telah ia pelajari ketika masih membuka lapak menjual pernak pernik oleh-oleh di lokasi wisata Lembah Anai, yang tidak jauh dari Kota Padang Panjang.

“Sebelum saya bisa membangun Galeri Minang Kayo ini, dulunya tepat di tahun 2009 saya hanyalah seorang pedagang lapak di Lembah Anai. Berkoar-koar mengimbau pengunjung yang datang untuk mampir ke lapak saya. Nah dalam kondisi seperti itu, saya berpikir ingin sekali membuat sebuah usaha yang menggunakan industri kulit dari Padang Panjang,” ujarnya.

Berawal dari keinginan yang besar dan bermodalkan Rp1,5 juta, Masroni mencoba mencari cara untuk bisa membuka usaha memproduksi sepatu, tas, dan yang lainnya menggunakan kulit.

Seiring waktu berjalan, di tahun 2016 Masroni mulai mendapat kesempatan masuk ke Kota Padang Panjang, menjadi pihak yang menampung kulit untuk diproduksi.

Perlahan-lahan, Masroni belajar untuk memproduksi kulit tersebut. Di momen ini, ada yang terpikir olehnya dan memasang tekad, jika keinginannya membangun sebuah galeri di Padang Panjang terwujud, maka akan memberikan pelayanan yang baik, dan mengedepankan kualitas.

“Dari pengalaman saya itu, kini Minang Kayo tumbuh dengan baik. Ke depan Minang Kayo dapat membuat cabang ke berbagai daerah tujuan wisata. Saya pun membuka diri jika ada pihak yang berminat untuk join bisnis. Soal bagaimananya, bisa disepakati dalam pertemuan. Bagi saya tidak ada yang perlu dipersulit,” terangnya.

Kini, Minang Kayo tumbuh dengan pandangan positif dari kalangan pelanggannya. Promosi yang dibangun itu, melalui respon kepuasaan dari pelanggan yang menyebar dari mulut ke mulut. Promosi pun didukung dengan memanfaatkan media sosial.

Selain itu, Minang Kayo juga bekerjasama dengan sejumlah agen travel. Dengan demikian, setiap bus angkutan wisatawan yang melewati Kota Padang Panjang, para agen travel menyempatkan rombongan untuk singgah ke Galeri Minang Kayo.

Lihat juga...