Petani Andalkan Bendungan Way Asahan di Musim Kemarau

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Musim tanam gadu mengakibatkan sebagian lahan pertanian sawah tidak bisa digarap. Minimnya pasokan air, membuat petani membiarkan sawahnya kering. Namun berkat keberadaan bendungan Way Asahan, ratusan hektare lahan sawah masih bisa digarap.

Sunarto, petani Penengahan, menyebut Way Asahan merupakan sungai yang berasal dari anak sungai Way Muloh, way Ruang Tengah dan Way Kelau. Menyatu menjadi aliran Way Asahan, membuat bendungan Lubuk Ludai, Way Asahan 1 dan Way Asahan 2 menjadi pemasok air. Pasoian air dialirkan melalui pintu air dengan petugas juru air dari UPT Pengujian dan Konstruksi Penengahan.

Totok,,petani di desa Pasuruan mengolah lahan dengan pemanfaatan air sistem bergilir saat masa tanam gadu -Foto: Henk Widi

Ia menyebut, dari pintu air utama, pasokan air disalurkan melalui jaringan irigasi sekunder yang disebut ledeng. Meski hanya berukuran sekitar 1,5 meter, jaringan irigasi mengalir ke areal pertanian sawah Desa Pasuruan, Desa Ruang Tengah dan Desa Kelaten.

Saat kemarau melanda, meski debit air sungai menyusut pembagian air masih bisa memenuhi kebutuhan petani.

“Bagi hamparan sawah yang ada di bagian bawah, pasokan air bisa diberikan melalui pintu air atau dikenal dengan tektek dari besi, sebagian memakai mesin alkon, jika lahan sawah ada di bagian atas ledeng,” ungkap Sunarto, Sabtu (29/6/2019).

Pasokan air dari Way Asahan yang masih lancar, diakui Sunarto berkat terjaganya hutan Gunung Rajabasa. Meski kemarau mulai melanda berimbas sebagian lahan pertanian sawah tidak bisa digarap, petani di wilayahnya masih bisa menggarap lahan sawah. Pada masa tanam gadu, ia memilih jenis benih padi tahan kemarau, di antaranya IR64 dan Ciherang. Sebaliknya, saat musim penghujan ia menanam jenis Muncul Cilamaya dan Inpari yang tahan genangan.

Selain Sunarto yang masih bisa menggarap lahan sawah, petani lain bernama Totok, juga masih bisa menggarap lahan.

Lokasi yang ada di atas sungai way Asahan membuatnya mengandalkan air dari Way Muloh. Namun sistem pembagian air dilakukan oleh petugas dari Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) Kecamatan Penengahan.

Pembagian air sengaja dilakukan, agar semua petani bisa menggarap sawah tanpa harus berebut air.

“Sebagian petani pada bagian atas yang memiliki sistem terasering menggarap lahan lebih awal, selanjutnya air dibagi pada lahan sawah bagian bawah,” kata Totok.

Totok yang mendapat jatah air memanfaatkan dengan pengolahan cepat. Memakai alat mesin pertanian (alsintan), ia mengolah lahan dengan cepat. Air yang terbatas dimanfaatkan untuk proses ngelep (merendam) hingga proses pengolahan selesai.

Sebagian lahan sawah yang sudah retak akibat kemarau, membuat air cepat terserap, sehingga pemanfaatan air dilakukan seefesien mungkin.

Meski telah mempercepat pengolahan lahan, Totok mengaku masih menyiapkan benih usia 10 hari. Sesuai target benih padi IR64 akan ditanam saat memasuki usia 21 hari dan bisa dipanen saat usia 100 hingga 120 hari.

Meski musim kemarau mulai melanda, petani penggarap lahan sawah memanfaatkan air dengan sistem bergilir, sehingga sejumlah lahan bisa digarap.

Selisih masa tanam yang rata-rata hanya berkisar 15 hingga 20 hari, bisa menghindari masa tanam tidak serentak. Sebab, masa tanam tidak serentak berpotensi mengakibatkan tanaman padi rentan hama.

Pembagian air yang merarata membuat petani menggarap secara bersamaan saat musim tanam gadu, optimis diprediksi masa panen akan berlangsung sekitar Oktober mendatang.

Lihat juga...