Pesan Idulfitri, Jabatan Dunia Sarana Dekatkan Diri kepada Allah

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Dalam khotbah salat Idulfitri 1440 H di lapangan umum Kota Baru Maumere, Khatib Ustad Hainul Rasyid, SP.d., meminta kepada seluruh umat muslim untuk patuh kepada perintah Allah. Pesan tersebut pun disampaikan juga kepada seluruh pemimpin negeri, baik presiden, hingga ke lurah maupun kepala desa, agar dalam menjalankan tugasnya tetap sesuai dengan ajaran Allah.

“Sebagaimana seruan Alquran, wahai kaum mukmin patuhlah kepada Allah, tempulah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan beramal saleh, berjuanglah kalian untuk membela Islam, niscaya kalian akan beruntung di akhirat. Surat Al-Ma’idah Ayat 35,” sebut Ustad Hainul Rasyid, Rabu (5/6/2019).

Dalam ayat itu, kata Hainul, setidaknya terkandung tiga perintah Allah SWT. Pertama, perintah untuk bertakwa. Patuhlah kepada Allah dengan melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

Ustad Hainul Rasyid, SP.d., (depan) khatib salat Idulfitri di Lapangan Umum Kota Baru, Maumetre. -Foto: Ebed de Rosary

“Barangkali di antara kita ada yang bertanya, kenapa kita takut kepada Allah. Bukankah Allah Maha Pengasih, Maka Penyayang, Maha Pengampun. Kenapa ditakuti?” katanya.

Pernakah kita, kata Hainul, menyadari berapa banyak orang yang mengaku dirinya Muslim, tetapi tidak salat, tidak puasa, dia melanggar larangan Allah. Dia melakukan korupsi, LGBT, berzinah, judi, mabuk, konsumsi narkoba, makan riba, menolak syariat Islam, menyebar hoaks, melakukan kecurangan dan begitu lantang melakukan hal-hal yang dilarang agama.

“Dia meninggalkan perintah agama bahkan meremehkan ajaran-ajaran agama. Semua itu terjadi karena minimnya rasa takut kepada Allah SWT. Takut kepada Allah adalah karakter orang yang bertakjwa. Manusia terkadang lebih takut kepada sesama manusia daripada kepada Allah SWT,” tegasnya.

Pesan kedua, kata Hainul, adalah perintah untuk beramal saleh, sebagai wasilah atau sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah dan amal kebaikan merupakan wasillah yang efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah, menganjurkan kebaikan dan mencegah hal-hal buruk.

“Jabatan dunia bisa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bila jabatan itu diraih dengan cara jujur. Kekuasaan pemerintah juga dapat menjadi wasillah bagi penguasa untuk mendekatkan diri kepada Allah,” ungkapnya.

Tetapi, sebut Hainul, hal ini berlaku selama kekuasaan itu digunakan untuk menegakkan keadilan dan menyejahterakan masyarakat. Kekuasaan tidak dipergunakan untuk menentang agama Allah.

“Pesan ketiga, ayat ini juga mengandung perintah untuk berjuang membela Islam, setelah Allah SWT memerintahkan kita untuk bertakwa, mengikuti jalan hidup yang diridhoi Allah. Lalu, meninggalkan semua yang haram dan berbuat ketaatan,” katanya.

Di manapun di dunia ini, tegas Hainul, rakyat tentu mendambakan seorang pemimpin yang dalam jiwanya mengalir nilai-nilai kemanusiaan, kebenaran dan keadilan. Pemimpin merupakan penuntun hidup dan pola perilaku masyarakat yang dipimpinnya.

“Di tangan pemimpin, sangat tergantung warna kehidupan bangsa dan negara. Jika pemimpin adil, maka keadilan akan sangat mudah merayap dalam tatanan kehidupan masyarakat. Bila pemimpinnya zalim, maka rakyatnya tertindas dan sengsara,” tuturnya

Hainul menyitir pesan imam al-Ghazali, “Sesungguhnya, kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para penguasanya, dan kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama, dan kerusakan ulama disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan; dan barang siapa dikuasai oleh ambisi duniawi, ia tidak akan mampu mengurus rakyat kecil, apalagi penguasanya. Allah-lah tempat meminta segala persoalan.” (Ihya’ Ulumuddin II: 381)

“Pesan Alquran kepada para penguasa muslim yang mendapatkan amanat kekuasaan, yang mengelola pemerintahan negara, agar melaksanakan salat, menunaikan zakat serta menyuruh anggota masyarakatnya berbuat yang mahruf dan mencegah yang mungkar,” ucapnya.

Penguasa berkewajiban memfasilitasi rakyatnya berbuat baik, mencegah perbuatan jahat. KJarena itu, para penguasa pusat maupun daerah harus melaksanakan perintah ini sebagai program utama pemerintahannya. Masyarakat harus diselamatkan dari kemungkaran dan kemaksiatan.

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, mengatakan, perayaan Idulfitri 1 Syawal 1440 Hijriah pada 5 Juni 2019 ini, mengusung tema, ‘Dengan Semangat Idulfitri 1440 H, Kita Tingkatkan Iman dan Takwa untuk Memperkokoh Rasa Persaudaraan Antar Sesama Umat di Nian Tana Sikka.’

“Saya senang dengan tema ini. Karena di dalam ajaran Islam, ada tiga macam ukhuwah atau persaudaraan. Pertama, ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan umat Islam; kedua ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan sesama warga bangsa, dan ketiga ukhuwah basyariyah atau persaudaraan umat manusia.

“Berdasarkan ukhuwah-ukhuwah itulah, saya mengajak saudara-saudara semua, untuk bersama-sama membangun kabupaten Sikka ini. Saya minta dukungan saudara-saudara dan tentunya juga saudara-saudara kita yang beraga Nasrani, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dan semua aliran kepercayaan yang diakui di NKRI ini, untuk bersatu hati dan bergandeng tangan membangun Nian Tana Sikka kita tercinta ini,” pesannya.

Lihat juga...