Warga Desa Lamatokan Andalkan Air Hujan Untuk Konsumsi

Editor: Koko Triarko

LEWOLEBA – Kebutuhan air bersih menjadi salah satu syarat utama yang harus tersedia di sebuah wilayah. Ketiadaan air bersih membuat masyarakat akan berupaya untuk mencari air bersih untuk dipergunakan sehari-hari.

“Setiap hari, warga membutuhkan air bersih untuk mandi dan mencuci. Tapi, air yang diambil dari sumur rasa airnya pahit, sehingga tidak bisa diminum,” sebut Yosef Magun, warga Desa Lamatokan, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, Minggu (12/5/2019).

Dikatakan Yosef, untuk minum warga mengandalkan air hujan yang ditampung di bak-abak penampung berukuran besar. Air hujan dari atap rumah dialirkan melalui talang atau bambu ke bak penampung.

“Hampir setiap rumah ada bak penampung yang dibangun berbentuk segi empat maupun bulat. Bak penampung ini bisa menampung air hingga lima ribu liter bahkan ada yang 20 ribu liter,” ujarnya.

Yosef Magun, salah satu tokoh masyarakat di Desa Lamatokan, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata. -Foto: Ebed de Rosary

Air tersebut, kata Yosef, bisa dipergunakan untuk mencuci dan diminum dan bisa dipakai hingga setahun. Sementara untuk mandi, terkadang warga mengambil air di sumur-sumur galian yang ada di desa menggunakan timba air.

“Jadi kalau ada hujan, warga merasa bersyukur sekali, sebab air hujan bisa ditampung di bak dan dipergunakan. Ada juga warga yang membeli bak penampung berbahan plastik atau fiber berukruan 2.200 liter untuk ditaruh di samping rumah,” terangnya.

Bosco Ritan, pekerja LSM yang selalu berada di desa ini, mengatakan, rata-rata sumur warga memang tidak sulit air, tetapi rasa airnya pahit. Ini terjadi karena warga Desa Lamatokan dan desa-desa lainnya berada di bawah kaki gunung Ile Lewotolok.

“Gunung Ile Lewotolok merupakan gunung api yang aktif dan selalu mengeluarkan belerang. Ini yang membuat sumur airnya terasa pahit, sehingga jarang dikonsumsi warga,” terangnya.

Selain itu, bila dipergunakan untuk mencucui pakaian, deterjen tidak berbusa. Lebih banyak air sumur dipergunakan untuk mandi saja bila persediaan air hujan di rumah warga sudah habis.

“Kalau membeli air dari kota Lewoleba, harga satu tanki air berukruan lima ribu liter sebesar Rp300 ribu. Tapi warga jarang sekali membeli air, kecuali ada hajatan seperti pesta yang membutuhkan banyak air,” jelasnya.

Bosco berharap, pemerintah bisa mempergunakan dana desa yang ada untuk pengadaan air bersih bagi warga. Kalau bisa, setiap rumah dipasangi meteran air oleh pemerintah desa dan dikenakan biaya.

“Pemerintah desa bisa mempergunakan dana desa untuk pengadaan air bersih. Setiap bulan bisa ditarik retribusi untuk jadi pemasukan desa, dan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa atau Bumdes,” ucapnya.

Lihat juga...