Panen Bisnis Parcel di Penghujung Ramadhan
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
PURWOKERTO — Mendekati Hari Raya Idul Fitri bisnis parcel mulai menuai keuntungan. Dalam satu hari pengusaha di Kota Purwokerto mendapat orderan minimal 50 paket.
Salah satu pengusaha, Yunita mengatakan, order mulai ramai memasuki minggu kedua bulan Ramadhan. Pesanan sampai 50 paket per hari, bahkan saat hari libur, Sabtu-Minggu, pesanan bisa mendekati 100 paket per hari.
“Sudah mulai ramai pesanan, kebanyakan dari instansi maupun perorangan, jadi kita terus menambah stok setiap harinya,” tutur pemilik Princess Parcel yang berada di Jalan Prof Suharso, Purwokerto, Selasa (28/5/2019).
Harga yang bervariasi, mulai dari kemasan yang paling sederhana seharga Rp 90.000 hingga kemasan lengkap seharga Rp 1.000.000 ke atas. Untuk seharga Rp 1.000.000, selain beragam jenis makanan, juga dilengkapi dengan satu set cangkir atau tas perempuan.
“Yang paling laku parcel yang murah dan medium, kisaran harga Rp 90.000 hingga Rp 400.000. Kalau yang harganya Rp 1.000.000 ada yang beli, tetapi tidak begitu banyak,” kata Yunita yang sudah tujuh tahun merintis usaha.
Untuk persiapan pada lebaran tahun ini, Yunita mengaku sudah mulai melakukan packing dua minggu sebelum lebaran dengan mengerahkan 11 tenaga kerja. Dalam satu hari dihasilkan puluhan rangkaian parcel, sehingga saat masuk bulan Ramadhan, stok sudah ratusan bahkan ribuan.
Pada Ramadhan tahun ini, kata Yunita, ia menambah stok parcel hingga 2.000 paket. Sebab, berdasarkan pengalaman, pada lebaran tahun lalu, tokonya bisa menjual sampai 1.500 paket. Sehingga untuk tahun ini stok ditambah 500 paket.
“Awal Ramadhan kemarin, ada pesanan tambahan yang jumlahnya cukup banyak, sehingga stok kita tambah, total saya punya 2.000 keranjang,” jelasnya.
Untuk menjaga kualitas, Yunita mengaku mensortir dengan teliti produk-produk makanan, terutama terkait batas tanggal kadaluwarsa produk. Ia memilih produk yang batas waktu kadaluwarsanya minimal masih 4 bulan. Sebab, hal tersebut berkaitan erat dengan tingkat kepercayaan konsumen.
“Jika ada satu saja ditemukan produk yang sudah kadaluwarsa, otomatis dampaknya sangat besar ke toko saya, jadi saya sortir semua barang dengan ketat saat berbelanja,” pungkasnya.