Grebeg Onje, Ajang Silaturahmi untuk Pelestarian Tradisi
Editor: Mahadeva
PURBALINGGA – Grebeg Onje yang digelar warga Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga merupakan rangkaian tradisi warga setempat menyambut Ramadan.
Tradisi tersebut sudah dilakukan secara turun-temurun, dan dimanfaatkan sebagai momentum silaturahmi warga. Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, menyampaikan, Grebeg Onje bisa menjadi ajang wisata.
Rangkaian kegiatan tradisinya cukup panjang dan menarik. “Saya sangat berterima kasih kepada warga Desa Onje yang selalu nguri-uri budaya, melestarikan tradisi, menjaga warisan nenek moyang kita. Jika dikemas dengan sedikit lebih menarik lagi, tentu ini bisa menjadi salah satu andalan wisata dan orang dari luar daerah akan berduyun-duyun datang untuk menyaksikan rangkaian acara Grebeg Onje ini,” kata Bupati Tiwi, saat menghadiri Grebek Onje, Kamis (2/5/2019).
Acara Grebek Onje dimulai dengan doa bersama. Setelah itu dilakukan pengambilan air di tujuh mata air yang dilakukan oleh tujuh pasang laki-laki dan perempuan. Pengambilan air menggunakan kendi atau tempat air berbahan tanah liat.

Pengambilan air diiringi musik selawatan. Dengan berjalan kaki ke-tujuh rombongan bertemu di Halaman Masjid R. Sayyid Kuning untuk berjalan ke Balai Desa Onje. Selanjutnya dilakukan prosesi seserahan air suci dari pembawa kendi kepada bupati.
Setelahnya, air di dalam kendi diarak menuju alun-alun Onje. Air dari tujuh kendi tersebut kemudian disatukan dalam satu wadah. “Air tersebut kemudian dibacakan doa-doa oleh para sesepuh Desa Onje dan selanjutnya masyarakat diperbolehkan untuk mengambil air,” kata, Tegus Purwanto, Budayawan Purbalingga.
Pengambilan tujuh mata air mempunyai nilai filosofi sendiri. Desa Onje memiliki banyak belik atau mata air, namun hanya tujuh mata air yang digunakan untuk kegiatan Grebeg Onje. Secara mitologi, ketujuh mata air tersebut memiliki sejarahnya masing-masing. Belik Sidomas, diyakini sebagai tempat untuk mandi ratu dan isteri-isteri bupati. Kemudian Belik Daor, yang merupakan belik tertua, yakni awal mulanya ada beradaban di Onje.
Belik Sendang Pancur mempunyai sejarah saat masa pemerintahan R. Sayyid Kuning, ada seorang tamu yang datang ke Onje, ia sudah tujuh tahun menikah dan belum dikarunia anak. Kemudian oleh R Sayyid Kuning dimandikan di sendang tersebut dan selang tujuh bulan berikutnya, Dia sudah dikarunia anak.
“Masih banyak lagi cerita lainnya, ada Belik Pancur, dimana belik tersebut mata airnya terhubung dengan bukit Jati Gagas. Belik tersebut dulu gunakan oleh para prajurit untuk mandi, setelah menempuh ujian kedigdayaan. Selain nilai-nilai sejarah tersebut, belik di sini juga dimanfaatkan oleh warga desa untuk keperluan sehari-hari,” terangnya.
Acara prosesi Grebek Onje, ditutup dengan grebeg gunungan yang berisi hasil pertanian. Warga desa memperebutkan gunungan hasil pertanian tersebut. Acara yang berlangsung di Lapangan Desa Onje ini dipadati masyarakat dan benar-benar menjadi pestanya warga Desa Onje untuk menyambut Ramadan.