Turki Tangkap Mata-Mata UAE, di Tengah Kasus Khashoggi
ANKARA – Turki telah menahan dua agen intelijen, yang mengaku mengintai warga negara-negara Arab.
Pengintaian dilakukan, untuk kepentingan Uni Emirat Arab (UAE). Pihak berwenang setempat, juga sedang menyelidiki apakah kedatangan salah satu dari kedua agen intelijen tersebut di Turki, ada kaitannya dengan pembunuhan Jamal Khashoggi.
Salah satu dari agen intelijen tersebut, tiba di Turki pada Oktober 2018 tepatnya, beberapa hari setelah Khashoggi dibunuh di dalam Konsulat Arab Saudi di Istanbul. Sementara, seorang lainnya datang untuk membantu rekannya tersebut. “Kami sedang menyelidiki apakah kedatangan agen pertama di Turki itu memiliki kaitan dengan pembunuhan Jamal Khashoggi,” kata seorang pejabat senior Turki.
Keberadaan agen tersebut telah dipantau selama enam bulan terakhir. “Kemungkinan ada upaya untuk mengumpulkan informasi tentang warga Arab, termasuk pembangkang politik, yang tinggal di Turki,” tambahnya.
Penangkapan dilakukan di Istanbul pada Senin (15/4/2019), sebagai bagian dari penyelidikan kontraintelijen. Pejabat Turki menyita sebuah komputer bersandi di ruang terpisah yang tersembunyi, yang diduga sebagai markas komplotan mata-mata. Pejabat yang minta identitasnya dirahasiakan tersebut mengatakan, sejumlah laporan yang diperoleh dari agen tersebut menunjukkan, operasi intelijen diarahkan untuk memata-matai politikus yang diasingkan dan mahasiswa.
Khashoggi, seorang kolumnis Washington Post serta pengkritik Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, tewas di Konsulat Saudi pada 2 Oktober. Kematiannya menuai kecaman internasional. CIA dan beberapa negara Barat meyakini bahwa Putra Mahkota, yang adalah penguasa de facto Arab Saudi, menjadi dalang di balik pembunuhan Khashoggi. Tuduhan itu dibantah oleh para pejabat Saudi.
Jaksa umum Saudi telah mendakwa 11 tersangka yang terlibat dalam kasus Khashoggi. Lima di antaranya akan menjalani vonis mati atas tuduhan pembunuhan dan melakukan kejahatan. (Ant)