Pengangkutan Belum Maksimal, Sampah Menumpuk di Pasar Alok Maumere

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MAUMERE — Sistem pengangkutan dan pengolahan sampah di kota Maumere dinilai belum maksimal. Hampir di setiap pasar di kota Maumere, limbah pasar masih menumpuk bahkan berserakan di luar kontainer yang disiapkan.

Gatot Muryanto. Foto : Ebed de Rosary

“Memang selalu berserakan karena sudah penuh sehingga para pedagang membuang di tanah di samping kontainer. Kebanyakan bekas sayuran-sayuran,” sebut Geradus Manyela, pedagang di pasar Alok Maumere, Rabu (10/4/2019).

Dikatakan Geradus, petugas dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kabupaten Sikka paling seminggu dua kali mengangkut.

“Dua hari sudah penuh sebab kontainernya pun terbatas, hanya ada dua saja. Kalau bisa ditambah dua lagi atau dibangun bak sampah baru agar bisa menampung,” ungkapnya.

Jika dilihat kata Geradus, biasanya produksi sampah paling banyak di hari pasar, Selasa. Banyak pengunjung dan pembeli yang berbelanja ke pasar Alok.

Hamidah salah seorang pedagang lainnya mengatakan, bila di kontainer menumpuk pedagang biasanya membuang di dekat los pakaian bekas. Ada juga di sekitar los ayam dan los sayur di tanah kosong.

“Mungkin karena jauh biasanya pedagang sayur dan pakaian suka membuang di dekat los pakaian bekas dan los ayam,” pintanya.

Menurut Hamidah, dengan kondisi pasar yang semakin sepi saja, sampah sudah berserakan dimana-mana apalagi saat ramai.

“Pengunjung juga terkadang malas datang ke pasar Alok karena harus mencium bau yang timbul dari tumpukan sampah yang membusuk,” tegasnya.

Gatot Muryanto Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka mengakui pihaknya memang kekurangan armada dan sumber daya manusia.

“Kontainer yang ada saat ini hanya 19 saja sementara kekurangannya 42 unit lagi. Truk yang dibutukan tambah minimal 5 armada lagi sebab saat ini hanya 10 saja,” tuturnya.

Satu kontainer kata Gatot, biasanya menampung 4 meter kubik. Sementara dalam sehari yang diangkut dan dibuang ke TPA Wairii sebanyak 308 meter kubik. Masih banyak yang tidak bisa diangkut untuk dibuang ke TPA.

“Fasilitas kendaraan sangat kurang apalagi bupati saat ini memprogramkan kebersihan. Kami mendukung program bupati dan gubernur NTT dan kami dari DLH Sikka berupaya maksimal untuk mengatasi permasalahan ini,” terangnya.

Gatot berharap agar bupati Sikka bisa memperjuangkan kekurangan armada dan penambahan kontainer serta petugas. Ini penting supaya permintaan bupati Sikka agar setiap 6 jam sampah diangkut, bisa terpenuhi.

Lihat juga...