Hutan Mangrove di Segara Anakan Terus Tergerus
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
CILACAP — Keberadaan hutan mangrove di kawasan Segara Anakan, yang merupakan laguna pemisah antara Pulau Jawa dengan Pulau Nusakambangan, Cilacap tak hanya sekedar pemandangan yang menyejukan mata saja. Bagi masyarakat Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, hutan tersebut juga menjadi sumber penghidupan. Sayangnya, rumpun tanaman bakau tersebut terus tergerus dari waktu ke waktu.

Luasan hutan mangrove saat ini hanya pada kisaran 4.000 hektare, padahal 2014 lalu hampir 7.000 hektare dan 2003, luasannya bahkan masih 8.000 hektare lebih.
Camat Kampung Laut, Nurindra Wahyu Wibawa mengatakan, tergerusnya hutan mangrove ini disebabkan banyak faktor, antara lain akibat adanya pendangkalan laut, kemudian terjadinya konversi areal hutan menjadi areal persawahan, tambak udang dan pemukiman penduduk. Juga pemanfaatan kayu bakau, sebagai material bangunan dan bahan baku arang untuk kebutuhan industri.
“Sedimentasi di Segara Anakan cukup tinggi, hal tersebut karena lumpur yang dibawa anak-anak sungai, antara lain Citandui dan Cipadang. Hal ini sudah berlangsung sangat lama,” terangnya, Rabu (24/4/2019).
Tergerusnya hutan mangrove ini juga berdampak pada hasil melaut para nelayan di sekitarnya. Jika dulu hasil tangkapan laut hingga 50 kilogram dalam sekali melaut, sekarang menurun dratis. Padahal kawasan laut ini menyediakan banyak sekali jenis ikan, seperti ikan belanak, kerapu, kembung, udang, kepiting dan lain-lain.
“Hasil tangkapan ikan nelayan sekarang jauh berkurang, sampai 50 persen lebih. Hal ini tentu berdampak pada berkurangnya penghasilan mereka,” kata Nurindra.
Menyadari akan pentingnya keberadaan dan kelestarian hutan mangrove, masyarakat Kampung Laut mulai belajar untuk memeliharanya dengan baik. Mereka mulai menaman mulai dari lingkungan sekitar rumah hingga di perairan Segara Anakan.
Upaya penanaman yang terus dilakukan warga serta berbagai komunitas pecinta alam dan aktivis peduli lingkungan, sedikit demi sedikit mulai membuahkan hasil. Meskipun belum bisa mengembalikan luasan yang hilang sepenuhnya, namun setidaknya, tanaman yang berfungsi untuk menjaga biota laut ini, tidak lagi berkurang luasannya.