Harga Jual Gabah Basah di Bantul, Anjlok
Editor: Koko Triarko
YOGYAKARTA – Memasuki bulan April ini, sejumlah petani di wilayah Yogyakarta mulai panen raya. Sayangnya, tak semua petani mendapatkan hasil panen berlimpah. Sejumlah kendala seperti adanya bencana banjir hingga serangan hama wereng, membuat hasil panen sejumlah petani tak maksimal. Hal itu semakin diperparah dengan harga jual gabah di tingkat petani yang anjlok.
Mulyono, petani di Dusun Ponggok, Trimulyo, Jetis, Bantul, Mulyono, menyebut hasil panennya kali ini tak maksimal. Menanam padi di lahan seluas kurang lebih 800 meter persegi, ia hanya mendapatkan gabah 2,1 kwintal. Padahal, biasanya, saat panen sedang bagus ia mengaku bisa mendapatkan hasil panen hingga 3 kwintal lebih.
“Kemarin masih banyak hujan, sehingga air belimpah. Sampai menggenangi sawah. Akibatnya, sebagian padi ambruk. Selain itu saat musim tanam pertama seperti sekarang ini banyak hama wereng, jadi hasil tak maksimal,” katanya, Sabtu (6/4/2019).
Di tengah hasil panen yang kurang maksimal itu, para petani seperti Mulyono, masih harus menghadapi anjloknya harga gabah yang dijual. Hal semacam itu hampir selalu terjadi setiap musim panen raya tiba.
Harga jual gabah basah di tingkat petani saat ini hanya Rp3.700-3.800 per kilogram. Harga itu menurun dari harga biasanya yang mencapai Rp4.100 gabah basah per kilogram.
“Setiap panen mesti anjlok. Sekarang hanya dihargai Rp3.700-3.800 per kilogram. Mau dijual Rp3.900 saja susah,” ungkapnya.
Rendahnya harga jual gabah itu membuat sejumlah petani memilih menyimpan sebagian hasil panen mereka untuk dikonsumsi sendiri. Mereka juga berharap, pada musim tanam kedua mendatang, hasil panen juga akan lebih baik.
“Harapannya, ya musim tanam berikutnya bisa lebih baik. Karena sudah tidak terlalu banyak hujan. Jadi, hama juga sudah berkurang,” katanya.