Abrasi Pantai Selatan Sikka Kian Mengancam

Editor: Koko Triarko

MAUMERE –  Hampir setiap tahun, wilayah pantai selatan kabupaten Sikka, mulai dari Kecamatan Paga, Mego, Lela hingga Bola, selalu mengalami abrasi. Tingginya hempasan gelombang membuat air laut menggerus tanah, sehingga mendekati pemukiman warga di berbagai kecamatan tersebut.

“Hampir setiap tahun, air laut naik hingga ke pemukiman warga dan merendam rumah-rumah kami. Dulu, jarak rumah kami dengan bibir pantai hampir 30 meter, tapi sekarang hanya sekitar lima meter,” sebut Yumensia Alfrida, warga Desa Lela, Rabu (24/4/2019).

Yumensia Alfrida, warga Desa Lela -Foto: Ebed de Rosary

Menurutnya, puluhan rumah di Desa Lela, Kecamatan Lela, juga terancam rubuh akibat abrasi yang terjadi sejak Minggu (14/4). Puncaknya saat gelombang besar, membuat air laut naik hingga melewati pemukiman warga pada Senin (22/4).

“Rumah saya hampir saja rubuh akibat terjangan gelombang. Biasanya, gelombang pasang terjadi di desa Watutedang hingga desa Sikka di sebelah timur. Tapi tahun ini, terjangan gelombang hampir merata di semua desa di pesisir selatan,” sebutnya.

Kepala Desa Sikka, Iganisius Mikael Riwu, menyebutkan, hampir semua dari 49 rumah yang berada di pesisir pantai selatan desanya terancam abrasi. Jarak rumah dengan bibir pantai hanya sekitar 5 meter, akibat terus tergerus abrasi setiap tahunnya.

“Saat gelombang besar dan air laut pasang, maka rumah warga pasti terkena percikan air laut, bahkan air masuk hingga ke dalam rumah. Saat musim gelombang besar, warga pun selalu bersiaga saat malam hari, takut ada bencana gelombang pasang,” ungkapnya.

Pihaknya telah meminta, agar pemerintah kabupaten Sikka membangun tanggung penahan gelombang atau pemecah ombak. Dengan begitu, hantaman gelombang akan semakin berkurang saat mendekati pantai.

“Kami sudah sampaikan, agar pemerintah membangun tanggul penahan gelombang agar tidak terjadi abrasi. Desa ini memiliki sejarah dan warisan budaya dan agama yang ditinggalkan Portugis,” sebutnya.

Ignasius berharap, agar pemerintah segera memperhatikan kondisi abrasi di pesisir Desa Sikka dan sekitarnya yang kian parah. Bila tidak segera diatasi, warisan budaya seperti gereja tua Sikka pun yang hanya berjarak sekitar 30 meter dari bibir pantai bisa terancam gelombang pasang.

Kepala BPBD kabupaten Sikka, Muhammad Daeng Bakir, meminta agar para wisatawan domestik maupun asing yang hendak ke Desa Sikka untuk mengunjungi situs sejarah harus berhati-hati.

“Bila hendak ke desa Sikka mengunjungi gereja tua Sikka dan warisan budaya dan sejarah lainnya, harus berhati-hati. Apalagi ruas jalan menuju Desa Sikka semakin menyempit, akibat tergerus air laut,” tegasnya.

Untuk itu, Daeng Bakir berharap agar para wisatawan yang hendak ke Desa Sikka, sebaiknya berangkat saat air laut sedang surut di pagi hari. Saat melewati jalan sejak memasuki Desa Lela, kendaraan juga harus berhati-hati, karena bagian pinggir jalan raya tergerus abrasi.

Lihat juga...