Petani Padi di Penengahan Kesulitan Air

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Memasuki masa tanam pertama (MT1) atau musim rendengan, sejumlah petani di Kecamatan Penengahan dan Sragi, Lampung Selatan (Lamsel) justru menghadapi kendala kekurangan air.

Sutono (40), salah satu petani padi varietas Muncul Cilamaya di Desa Pematang Baru,Kecamatan Sragi, mengatakan, meski musim rendengan, namun lahan sawah miliknya kekurangan air. Ia bahkan terpaksa memanfaatkan mesin alkon atau penyedot air untuk lahan sawahnya.

Menurut Sutono, hujan yang turun di wilayah tersebut sepekan sebelumnya, belum mampu menggenangi tanaman padi pada usia 30 hari setelah tanam (HST) miliknya.

Memasuki proses pemupukan tahap pertama dengan pupuk NPK, SP-36 dan Urea, lahannya masih cukup basah terendam air usai hujan. Namun sepekan usai proses pemupukan, lahan miliknya kering, sehingga ia harus menggunakan mesin alkon.

Sandi, petani padi varietas Ciherang menyemprot walang sangit dengan insektisida -Foto: Henk Widi

Ia menjelaskan, mesin alkon dengan selang sepanjang puluhan meter, dipergunakan untuk mengalirkan air dari rawa-rawa di wilayah tersebut. Rawa-rawa yang sebelumnya meluap oleh aliran sungai Selapan dalam beberapa hari terakhir, kembali kering.

Padahal, tiga jenis pupuk yang telah ditebarkan harus cepat diresapkan pada lahan yang didukung dengan proses ‘ngelep’ (merendam lahan dengan air).

Sutono mengaku harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli solar sebagai bahan bakar mesin penyedot air.

“Sebetulnya agak aneh, karena musim hujan di beberapa wilayah Lampung Selatan, namun di lahan sawah kami kekeringan, tidak adanya aliran irigasi membuat sawah tidak bisa daliri, jika tidak menggunakan mesin sedot air,” terang Sutono, Senin (25/3/2019).

Selain kekurangan air, tanaman padi miliknya juga mulai mendapat serangan hama. Di antaranya, hama penggerek daun, dan tikus, yang berimbas daun dan batang padi di wilayah tersebut menguning.

Juga hama walang sangit turut menyerang. Seperti hama tikus, hama walang sangit menghisap bulir padi muda yang mulai berisi, dan berimbas penurunan produktivitas padi.

Menurut Sutono, upaya penanganan hama walang sangit dilakukan dengan penyemprotan insektisida. Hama walang sangit tersebut membuat tanaman padi yang berbuah akan memiliki bulir padi yang tidak sempurna, terutama saat panen.

Selain menggunakan insektisida, ia juga menggunakan cairan alami dari daun sirsak yang disemprotkan saat pagi hari dan sore hari. Ia juga memasang perangkap dengan keong mas, bekicot yang diletakkan pada sabut kelapa, menjadi pemancing walang sangit, dan selanjutnya dimusnahkan dengan cara dibakar.

Selain Sutono, petani di Desa Kelaten, Desa Pasuruan yang berada jauh dari lokasi saluran irigasi juga mengalami kekurangan air. Sawah milik Suyatinah di Desa Kelaten, di antaranya harus memanfaatkan sumur bor milik salah satu warga.

Sumur yang dipompa menggunakan listrik tersebut, membuatnya harus mengeluarkan biaya sekitar Rp50 ribu per hari untuk membeli token listrik.

Meski hujan mulai turun, namun dengan intensitas sedang, berimbas petani pemilik lahan sawah memanfaatkan sumur bor untuk tanaman padi menjelang masa berbulir.

“Saluran irigasi tidak mengalir, kalau pun mengalir sudah habis airnya digunakan pemilik lahan sawah di bagian atas saluran irigasi,” papar Suyatinah.

Kesulitan akan pasokan air saat musim padi berbulir disertai hama walang sangit, juga dialami oleh Sandi, petani di Desa Pasuruan. Ia menyebut, hama walang sangit hanya salah satu dari hama yang menyerang di lahan persawahan desa setempat.

Memasuki bulan Maret atau masa tanam pertama, hama yang menyerang padi milik petani cukup beragam. DF antaranya, hama burung pipit, hama lembing serta tikus. Penanganan hama sudah dilakukan secara kimiawi serta cara tradisional meminimalisir kerugian.

Sandi menyebut, perubahan pola cuaca di wilayah tersebut, sekaligus mendukung berkembangnya hama. Selain itu, petani yang tidak melakukan penanaman serentak, akibat pasokan air berimbas hama berkembang pesat.

Hama burung pipit disebutnya cukup banyak, karena pada satu desa dengan hamparan yang sama petani menanam padi dengan waktu tanam berbeda. Imbasnya, hamparan padi sawah varietas Ciherang, IR 64 mengalami serangan hama burung, tikus dan walang sangit, meski hanya sebagian kecil yang terkena.

Lihat juga...