Orang Tenggelam di Pelabuhan Fery Kewapante Sering Terjadi
MAUMERE – Empat orang pelajar datang ke pelabuhan Fery Kewapante, di Desa Namangkewa, Kecamatan Kewapante, Kota Maumere, untuk berenang di laut. Kegiatan ini dilakukan untuk mengisi hari libur Nyepi. Namun, naas. Gelombang besar datang dan menyebabkan tiga di antara empat anak tersebut, tenggelam.
“Saat sedang asyik mandi, datang gelombang besar dan menerjang mereka. Korban Wiwin Marianto Mitan (22) pun berjuang dan menyelamatkan dua teman lainnya. Namun saat hendak menyelamatkan seorang korban lainnya,Yakobus Imanuel (19) alias Stefen, dirinya justru ikut tenggelam,” kata Kapolres Sikka, AKBP Rickson PM Situmorang, S.I.K., Kamis (7/3/2019).

Menurut penuturan, kata Rickson, Wiwin telah berhasil menyelamatkankedua pelajar lainnya. Namun saat hendak menyelematkan Stefen, diriny ikut terseret gelombang dan arus hingga hilang dan belum ditemukan.
“Pencarian pun dilakukan oleh tim SAR Maumere bersama Lanal Maumere, Polres Sikka,Tagana dan BPBD Sikka,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Desa Geliting, Makarius Oskar, menyampaikan, pelabuhan Fery Kewapante memang sejak dahulu menjadi tempat untuk mandi. Korban bernama Wiwin datang bersama dua temannya, mereka datang tidak bersamaan dan mandi tidak bersamaan.
Ia mengatakan, Wiwin awalnya membantu dua orang teman perempuan dari satu sekolah SMA Tawa Tana. Tetapi, saat hendak membantu Stefen, dirinya ikut tenggelam.
Saat korban dan temannya mandi, air laut tenang dan arusnya tidak terlalu kencang. Namun, tiba-tiba datang angin kencang disertai gelombang tinggi.
“Dulu, memang tempat ini biasa dijadikan tempat mandi dan sampai saat ini sudah dibangun pelabuhan pun, masih ada orang yang datang untuk mandi maupun berwisata,” terangnya.
Oskar mengaku, sebagai kepala desa, dirinya selalu mengimbau kepada masyarakat agar jangan mandi di sekitar pantai ini. Pantai Namangkewa di pelabuhan Fery ini hampir setiap tahun selalu ada orang tenggelam.
“Pantai Namangkewa, apalagi di pelabuan Fery, memang gelombangnya cukup tinggi, walaupun angin tidak terlalu kencang. Kadang gelombang tinggi pun datang secara tiba-tiba, sehingga saya selalu mengimbau masyarakat, agar jangan mandi di daerah ini,” ungkapnya.
Heri, warga Namangkewa, menuturkan, kejadian korban tenggelam dan meninggal ini sudah berlangsung empat kali sampai saat ini. Pada 2014, 2017 dan 2018 lalu, masing-masing satu korban meninggal. Pada 2019 ini, dua korban hilang dan belum ditemukan.
“Dulu, setelah korban tenggelam dan warga setempat melakukan penyelaman, korban pun ditemukan. Korban sebelumnya biasanya tersangkut pada batu karang di sekitar tiang dermaga fery,” terangnya.
Heri yang sering menyelam dan memanah ikan di sekitar pelabuhan Fery, menyatakan, di tiang-tiang pancang pelabuhan tersebut terdapat banyak batu karang. Biasanya, korban terseret arus dan gelombang hingga tersangkut di karang.
“Saya menduga kedua korban juga terserat arus dan berada di kedalaman sekitar dermaga feri, atau sebelah timur dari dermaga feri yang juga terdapat banyak sekali batu karang,” pungkasnya.