Masyarakat di Pessel Diminta Waspadai Ikan Berformalin
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
PESISIR SELATAN — Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, mengimbau kepada masyarakat setempat untuk mewaspadai adanya ikan berformalin. Imbauan ini didasari dari adanya temuan di beberapa pasar tradisional.

Kepala Dinas Pangan Pesisir Selatan, Alfis Basyir mengatakan, pihaknya telah melakukan uji coba dan sampel ikan yang dijual di Pesisir Selatan. Dari hasil pemeriksaan labor pada November 2018 lalu, ditemukan menggunakan bahan pengawet jenis formalin.
“Iya kita menemukan adanya ikan yang menggunakan pengawet jenis formalin. Tapi dari pengakuan pedagang, ikan itu bukan dari hasil tangkapan nelayan setempat, melainkan luar daerah Pesisir Selatan,” katanya, Jumat (8/3/2019).
Sejauh ini langkah yang diambil oleh Dinas Pangan, yakni berupa peringatan dan meminta kepada pedagang ikan tidak lagi menerima dari luar daerah Pesisir Selatan. Tidak hanya soal kesehatan masyarakat yang membelinya, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap ikan lokal juga akan turun.
“Jadi agar tidak menimbulkan dampak terhadap kesehatan masyarakat, kita dari Dinas Pangan melalui petugas kembali memastikan. Hal yang kita lakukan ialah dengan cara turun langsung ke lapangan setiap harinya,” ucapnya.
Selain terus mewaspadai, pihaknya juga telah meminta surat pernyataan dari pedagang ikan yang positif menjual ikan berformalin, supaya tidak lagi menjual.
“Beberapa oknum pedagang tersebut sudah disurati. Gunanya untuk memastikan apakah masih tetap memakai bahan pengawet jenis formalin, sehingga hari ini kita turun ke lapangan untuk kembali dilakukan uji labor,” jelasnya.
Alfis Basyir menjelaskan, salah satu ciri-ciri yang harus diketahui oleh masyarakat terhadap ikan yang berformalin yakni bisa dilihat dari bentuk tekstur kulitnya yang padat, sementara dagingnya lembek dan lunak.
Ciri lainnya, tidak dikerumuni lalat. Sebab zat yang terkandung pada formalin juga ditakuti oleh lalat. Bila ada ikan yang dijual pedagang tidak dihinggapi lalat, patut dicurigai. Bahkan yang paling mudah bisa diketahui dari baunya. Ikan baunya sedikit amis dan bercampur busuk.
“Jadi ikan yang berformalin itu kita temukan dari jenis ikan tongkol, sisik, ambu-ambu dan berbagai jenis ikan lainya mulai dari berat paling rendah 1 kilogram,” sebutnya.
Ia menegaskan perlu adanya menghindari makanan yang berbau zat formalin itu, karena dampak kesehatannya sangatlah buruk. Artinya, apabila termakan akan menyebabkan beberapa gejalanya seperti, mual, muntah dan diare berkepanjangan. Serta dapat juga terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, ginjal, sistem susunan saraf pusat dan kanker.
“Kami berharap pedagang tidak nekat melakukan kecurangan dalam hal mencari untung. Karena dampaknya sangat buruk bagi kesehatan masyarakat,” tegasnya.