Mantan Aktivis Ini Sukses Berwirausaha
Editor: Satmoko Budi Santoso
MAUMERE – Menjadi seorang aktivis dan memperjuangkan hak-hak masyarakat lewat advokasi maupun parlemen jalanan tentunya membutuhkan pengorbanan. Setelah menikah dan berumah tangga, tentunya seorang aktivis pun dituntut untuk memiliki pendapatan tetap, guna membiayai kehidupan rumah tangganya.
“Aktivitas tinggi di politik dan sosial tentunya ekonomi rumah tangga harus kuat. Maka saya mulai membangun usaha untuk menopang ekonomi rumah tangga,” sebut Laurensius Wolo Sina Ritan, wirausahawan di Maumere, Selasa (5/3/2019).
Ditemui Cendana News di kios tempat usahanya, Laurens banyak bercerita tentang kegiatannya saat mahasiswa di Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Pihaknya sering menggelar demo menentang kebijakan pemerintah terkait berbagai kebijakan yang berpengaruh terhadap masyarakat kecil.
“Tahun 2011 saat masih aktif di LSM, saya mulai membuka usaha kios di depan kampus Universitas Muhammadiyah Maumere. Kios tersebut pun saya kontrak dengan harga Rp13 juta per tahun. Kios ini saya namakan 131 karena tiga anak saya lahir tanggal 13 dan 31,” sebutnya.
Uang hasil kerja awal dikumpulkan untuk membeli sebidang tanah di kota Maumere. Tanah tersebut hanya dibayar sebagian dan setelah mendapatkan sertifikat, dirinya mengajukan pinjaman uang ke bank untuk membayar biaya tanah sisanya dan sebagian lainnya dipakai sebagai modal usaha.
“Saat itu dalam sebulan saya bisa mendapat keuntungan bersih Rp7 juta sampai Rp8 juta. Prospek usaha sangat menggembirakan sehingga tahun 2014 saya berhenti dari LSM dan fokus berwirausaha,” terangnya.
Suami dari Imelda Muda ini pun mulai menginvestasikan keuntungan usahanya dengan membeli tanah dan membangun kios. Ada 4 kios miliknya yang disewa Rp8 juta setahun untuk satu kios. Dirinya pun membuka lagi sebuah kios, menjual aneka kebutuhan di dekat pelabuhan Laurens Say Maumere.
“Kalau di dekat pelabuhan saya kontrak tanah Rp3,5 juta setahun dan saya bangun sendiri. Untuk satu kios dalam sebulan saya bisa meraup untung Rp3 juta sampai Rp3,5 juta per bulan. Sebab saat ini usaha kios sudah banyak sekali,” ungkapnya.
Laurens pun mengaku, telah membeli beberapa bidang tanah dan memiliki simpanan uang di bank. Total aset yang dimilikinya berkisar antara Rp600 juta sampai Rp700 juta. Aset tersebut sangat diperlukan untuk berjaga-jaga bila usaha sedang merosot untuk dipakai sebagai modal usaha dan membayar hutang.
“Dalam berbisnis ibarat kurva, kadang naik kadang juga turun drastis. Kadang modal usaha macet tetapi sebagai wirausahawan kita harus bertahan dalam bisnis. Saat-saat seperti ini aset yang kita miliki bisa diagunkan di bank untuk mendapatkan modal tambahan atau bayar hutang,” sebutnya.
Pasang surut dalam usaha merupakan hal yang biasa bagi lelaki 41 tahun ini. Selain kuat mental, manajemen keuangan harus bagus agar usaha bisa berkembang. Terkadang harus melihat peluang bisnis lain dan berani ekspansi bila usaha lainnya sedang lesu.
“Jiwa wirausaha masyarakat lokal juga bagus, namun perlu ada pendampingan dari pemerintah. Baik itu pelatihan manajemen, modal awal usaha. Pemerintah juga harus melakukan pendataan dan mengunjungi pelaku UKM, menghimpun mereka dalam sebuah wadah untuk mendapatkan berbagai pelatihan dan bantuan,” tegasnya.
Peluang usaha di kabupaten Sikka, tambah lelaki kelahiran Heras, Mokantarak, Larantuka ini, masih sangat terbuka. Banyak potensi yang bisa dimanfaatkan namun masyarakat lokal belum berani menjadi wirausaha.
Orang memilih bekerja dengan gaji Rp1 juta sebulan sementara bila berusaha bisa mendapatkan uang Rp3 juta sebulan.
“Maka butuh campur tangan pemerintah saat awal berusaha. Lihat saja di kota Maumere, banyak anak putus sekolah karena mereka lebih memilih berjualan ikan dan mendapatkan uang yang lumayan besar untuk usia mereka yang masih SD atau SMP. Jiwa wirausaha ada, namun butuh sentuhan saja dan itu tugas pemerintah,” tuturnya.
Saat ditanya kenapa mau terjun ke politik, Laurens katakan, dirinya melihat selama ini pendistribusian APBD belum banyak untuk pelaku UKM. Padahal membangun perekonomian masyarakat terutama UKM penting untuk mengurangi pengangguran dan bisa mendatangkan pendapatan bagi daerah juga.
“Saya tertantang untuk menjadi anggota DPRD agar bisa berjuang supaya distribusi APBD bisa dirasakan masyarakat kecil. Anggota dewan kan memiliki tugas membahas anggaran bersama pemerintah,” katanya.
Ayah dari 2 putra dan 2 putri ini pun menyimpan mimpi mempunyai usaha yang besar dan berkembang hingga dirinya bisa mempekerjakan orang lain. Baginya, semakin banyak orang yang membuka usaha maka akan mengurangi pengangguran serta membantu orang lain untuk bisa sukses juga seperti dirinya.
“Banyak orang dari luar daerah yang datang berusaha di kabupaten Sikka dan sukses. Saya tertantang untuk bisa meraih sukses dalam usaha. Tentunya itu butuh kerja keras dan mental dalam menghadapi cobaan,” pungkas Laurens.