Dibangun 2017, Tiga Desa di Sikka Kini Nikmati Air Bersih

Editor: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Pembangunan jaringan air bersih bagi 3 desa yakni Baopaat, Hepang dan Iligai di kecamatan Lela selama 3 tahun sejak 2017 akhirnya bisa tuntas dan air pun sementara sudah bisa dinikmati warga.

“Kegiatan ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2017 melalui suatu siklus perencanaan, suatu perjuangan segenap komponen masyarakat terutama di lokasi program dan diperjuangkan ke bupati Sikka,” sebut bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, Jumat (15/2/2019).

Dikatakan Roby, sapaannya, perjuangan panjang itu akhirnya berujung dengan peresmian proyek air bersih ini. Pemerintah berharap masyarakat menjaga dan mempergunakan air bersih yang ada dengan sebaik-baiknya.

“Saya berharap, air yang baru kita resmikan ini menjadi perhatian Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) maupun PDAM. Jangan setelah kita resmikan, seminggu kemudian air tidak mengalir lagi, tetapi ini harus berkelanjutan,” tegasnya.

“Memang urusan air ini tidak gampang. Dalam kepemimipinan kami ambisi begitu besar untuk menyelesaikan persoalan air minum di kabupaten Sikka. Memang kalau kita tidak berambisi untuk menyelesaikan masalah air minum, bagaimana bisa menjawab persoalan yang dialami masyarakat,” sebutnya.

Jumlah rumah tangga kurang lebih 80 ribu rumah, sementara jumlah Kepala Keluarga (KK) 100 ribu lebih. Sementara itu, jumlah rumah yang dilayani air PDAM sebanyak 15 sampai 16 ribu sambungan rumah.

“Dari jumlah sambungan rumah sebanyak 15 ribu hingga 16 ribu tersebut, yang aktif hanya 12 ribu sampai 13 ribu saja. Sementara sisanya tidak aktif karena air tidak mengalir,” terangnya.

Keadaan ini, tegas Roby,  menjadi persoalan yang saat ini dihadapi. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah khususnya PDAM Sikka untuk mengelola penyaluran air bersih dengan baik.

“Para kepala desa dan masyarakat mohon menjaga aset ini. Nanti soal kerja sama dengan PDAM diatur kemudian. Mungkin metodenya PDAM menyalurkan dengan meteran gelondongan, kemudian desa mendistribusikan ke rumah–rumah penduduk,” ungkapnya.

Dengan demikian, ada kerja sama antara BUMDES dengan PDAM. Pengeloaan bersama ini akan membuat BUMDES dan PDAM bisa berkembang dan air diharapkan tetap mengalir lancar, dikonsumsi masyarakat.

Sementara itu, camat Lela, Rikardus Piterson menyampaikan, bertahun–tahun masyarakat mendambaakan air dan kini sudah bisa dinikmati. Satu harapan bersama, lanjutnya, jagalah yang ada dan bila terjadi gangguan harap berkomunikasi secara baik karena ada Sistem Pengelolaan Air Bersih Ibukota Kecamatan (SPAM IKK).

“Tiga kecamatan yakni Nita, Koting dan Lela bersama para kepala desa juga sudah membangun komunikasi bersama untuk menjaga. Pasti akan ada pengaturan jadwal jam pembagian air. Masyarakat juga harus berpartisipasi untuk membantu pemerintah daerah sehingga keberlangsungan penggunaan air minum dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat,” pungkasnya.

Lihat juga...