Awal Tahun Produksi Avokad di Lampung Selatan Turun
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Hasil panen buah avokad milik sejumlah petani di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) mengalami penurunan. Hal tersebut diduga imbas kondisi cuaca. Saat proses pembungaan dengan curah hujan rendah membuat tanaman berbunga dalam jumlah terbatas.

Syahbana, pengepul sekaligus pemilik kebun avokad di dusun Kayu Tabu, desa Kelawi, kecamatan Bakauheni membandingkan, tahun lalu pada satu pohon yang dipanen bertahap dapat menghasilkan dengan rata rata 20 kilogram per pohon, kini hanya berkisar 15 kilogram.
Hasil panen yang turun mempengaruhi harga. Tahun lalu, harga buah berkisar Rp12.000 hingga Rp15.000 per kilogram.
“Kini harga Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Penurunan harga dipengaruhi oleh pasokan buah yang berasal dari wilayah lain,” terang Syahbana saat ditemui Cendana News, Senin (11/2/2019).
Meski produksi turun, namun pasokan buah pada masa panen raya disebut Syahbana berasal dari wilayah Tasikmalaya dan Cianjur. Sementara dari wilayah Lampung pasokan meningkat berasal dari kabupaten Tanggamus, kabupaten Lampung Barat.
Ia juga menyebutkan, permintaan umumnya berasal dari sejumlah pemilik usaha pembuatan minuman buah sebagian untuk bahan kosmetik di salon kecantikan. Buah yang sudah dipanen disortir sesuai dengan grade atau ukuran yang sudah ditentukan.
Grade A merupakan kualitas bagus dengan satu kilogram berisi sebanyak 2 hingga 3 buah. Grade B merupakan jenis berukuran sedang berisi sebanyak 4 hingga 5 buah per kilogram.
Saat produksi buah avokad turun, Syahbana hanya bisa mengirimkan sekitar 100 kilogram per pekan meski sebelumnya bisa mengirim sekitar 200 kilogram. Meski demikian pengiriman secara berkelanjutan tetap bisa dilakukan olehnya memenuhi kebutuhan pasar.
Enti, sang istri yang memiliki tugas menyortir mengaku penurunan produksi membuat jumlah grade B lebih banyak. Buah yang disortir merupakan buah yang selesai dipanen oleh sang suami dengan cara membeli dari sejumlah pemilik kebun. Sistem pemetikan dilakukan dengan galah langsung dilakukan oleh sang suami dengan harga per kilogram di tingkat petani Rp5.000 hingga Rp6.000.
“Berbeda dengan buah lain, pemanenan harus hati hati agar tidak jatuh dan pecah, karena berpengaruh pada kualitas buah,” beber Enti.