40 Hektare Tanaman Kopi di Babadan Sudah Produktif
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
BANJARNEGARA — Desa Babadan, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara mulai bergeliat sejak para petaninya beralih menanam kopi. Desa yang dikenal rawan longsor ini, sekarang sudah memiliki 60 hektare ladang dan 40 hektare di antaranya sudah mulai produktif.

Petani di Babadan mulai menanam sejak 2010 dan mereka panen perdana pada 2014. Kurang lebih ada 150 ribuan pohon yang sudah ditanam dengan jenis Lini S 795 arabika.
ʺKita juga mendapat bantuan tanaman kopi dari Bank Indonesia (BI) Purwokerto sebanyak 12 ribuan pohon dan sudah ditanam, bahkan 40 persennya sudah panen,ʺ kata salah satu petani, Turno, Senin (18/2/2019).
Dari hasil panen, sebanyak 5 ton green bean atau biji kopi dikelola oleh Koperasi Sikopel Mitreka Satata. Menurut Turno, hasil panen sebenarnya lebih dari 5 ton, karena sebagian ada yang dikelola sendiri oleh petani.
Koperasi Sikopel Mitreka Satata ini mulai dari menampung hasil panen petani, mengolah hingga memasarkan. Koperasi membeli biji kopi petik merah dari petani seharga Rp 12.000 per kilogram. Setelah melalui proses pengolahan, koperasi menjual dalam bentuk bubuk seharga Rp 300.000 per kilogram
ʺKalau untuk green bean-nya setelah diolah, oleh koperasi dijual dengan harga Rp 100.000per kilogram,ʺ kata Turno yang juga sebagai ketua Koperasi Sikopel Mitreka Satata.
Kopi Babadan ini sudah menembus pasar nasional. Permintaan datang dari berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta dan lain-lain. Belum lagi permintaan dari cafe-cafe lokal di wilayah Banjarnegara, Wonosobo dan sekitarnya.
ʺPelanggan kita, cafe yang di Jakarta itu memiliki cabang di seluruh Indonesia, sehingga berapapun stok yang kita miliki, mereka mau membeli. Namun, kita juga tidak bisa mengesampingkan cafe-cafe lokal. Meskipun harus masuk dalam daftar tunggu, cafe lokal tetap kita alokasikan dalam jumlah tertentu,ʺ jelas Turno.
Luasan lahan di Desa Babadan terus berkembang, seiring dengan banyaknya petani sayuran yang beralih menanam kopi.
Pihak desa juga berencana untuk menanam seluas 2 hektare di kawasan wisata Curug Sikopel. Selain mempunyai nilai ekonomi tinggi, tanaman ini juga untuk mencegah longsor di daerah Sikopel.