Sakai Sambaiyan Bantu UKM di Lamsel Lewat Fasilitas dan Modal

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Tanda pagar (Tagar) #LamselBisa #LamselBangkit #KunjirBangkit terus digaungkan oleh generasi milenial dalam upaya mendukung Lampung Selatan bisa bangkit usai tsunami.

Sakai Sambaiyan
Yodistira Nugraha, pegiat komunitas peduli wisata Lampung (Pelita) dan pegiat komunitas Sakai Sambaiyan untuk menggalang kepedulian bagi korban bencana alam. Foto: Henk Widi

Yodistira Nugraha, pegiat komunitas peduli wisata (Pelita) Lampung penggagas komunitas Sakai Sambaiyan dalam bahasa Lampung dimaknai sikap rela bergotong royong menyebutkan, komunitas tersebut terus berupaya memberikan dukungan pada sektor usaha kecil dan menengah (UKM) di wilayah terdampak tsunami melalui  fasilitas, modal serta promosi.

“Sasaran komunitas Pelita, Sakai Sambaiyan adalah mendukung permodalan serta pembuatan fasilitas dari hasil amanah berbagai pihak. Tujuannya agar warga bisa bangkit dari keterpurukan dan bayang-bayang trauma melalui aktivitas usaha salah satunya warung kopi,” terang Yodistira saat ditemui Cendana News, Selasa (15/1/2019).

Kegiatan dukungan bagi pelaku UKM terdampak tsunami diakuinya bukan kali pertama dilakukan Pelita. Yodis menyebut berbekal pengalaman mendukung UKM paska gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan di Palu, Sulawesi Tengah ia melanjutkan ide serupa di kampung halamannya yang juga diterjang tsunami.

Konsep diawali dengan pembuatan warung kopi (Coffee Shop). Warung kopi identik dengan tempat untuk bersantai, berkumpul dan melahirkan berbagai ide. Bagi pemilik warung kunjungan pembeli akan memberi pemasukan dan pengunjung bisa memberi sumbangsih dalam upaya membangkitkan UKM di wilayah tersebut.

Meski tahap awal warung dikonsep gratis, Yodis menyebut pekerja sudah diberikan upah harian layaknya kondisi normal dalam usaha warung kopi. Pembuatan warung kopi di Lombok dan Palu diakui Yodis menjadi cikal bakal usaha lanjutan setelah pelaku usaha bisa mandiri.

“Kami sudah fasilitasi berupa pembuatan warung, bahan baku, peralatan memasak agar menjadi contoh bangkitnya sektor UKM di kawasan terdampak bencana,” terang Yodis.

Nurlela, pemilik usaha kuliner di pantai Kunjir menyebut tidak ada barang tersisa dari usaha yang dimilikinya. Bersama keluarga yang sempat terseret tsunami ia akhirnya mengungsi.

Meski demikian dua pekan pascatsunami ia mulai bersemangat untuk melanjutkan usaha yang ditekuninya, meski rumah yang ditinggalinya rata dengan tanah. Suaminya bernama Iyung dan sejumlah warga lain bahkan mulai membangun warung sementara untuk berjualan.

“Awalnya kami sudah tidak bersemangat untuk memulai usaha namun ada dukungan dari komunitas Pelita berupa fasilitas hingga uang tunai sebagai modal,” beber Nurlela.

Pada tahap awal, dukungan pembuatan warung telah direalisasikan. Wanita yang kehilangan peralatan memasak berupa kompor gas, panci serta peralatan lain tersebut juga mulai diberi bantuan oleh berbagai pihak. Ia bahkan berencana membeli lemari pendingin untuk pembuatan es mendukung usaha kuliner minuman kelapa muda.

Lokasi yang berada di dekat pantai sebagai kawasan untuk usaha kuliner bagi wisatawan membuat ia tetap ingin bertahan melanjutkan usaha.

Hingga kini ia menyebut belum mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk UKM yang ditekuninya. Ia bahkan menyebut bantuan awal berasal dari komunitas Pelita dan Sakai Sambaiyan menjadi pendorong bagi warga lain untuk kembali bangkit.

Memulai usaha dari warung kecil diharapkan bisa menjadi pemacu untuk memulai kehidupan yang baru. Ia bahkan belum berpikir untuk mendirikan bangunan rumah di lokasi awal yang sudah rata dengan tanah sehingga sementara tinggal di rumah kerabat.

Dukungan bagi sektor UKM diapresiasi oleh Arlizon, pelaksana tugas kepala desa Kunjir. ia menyebut berbagai bantuan kepada warga terdampak tsunami sudah cukup melimpah.

Ia bahkan menyebut bantuan yang ada merupakan “ikan” dalam istilah nelayan pesisir pantai Kunjir. Sementara saat ini warga membutuhkan “pancing” agar bisa terus menerus mencari ikan atau berusaha. Dukungan dari komunitas Pelita dan Sakai Sambaiyan sudah konkrit menjadi sebuah pancingan.

“Permodalan bagi sejumlah UKM tentunya sangat diperlukan karena sejumlah pelaku usaha kehilangan fasilitas hingga permodalan,” beber Arlizon.

Lihat juga...