Pemkab Sikka Latih Pewarnaan Benang ke Kelompok Tenun

Editor: Mahadeva

MAUMERE – Di 2018, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka, melalui Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM, membantu benang serta alat bantu tenun ikat. Bantuan diberikan kepada kelompok usaha tenun yang ada di masyarakat.

Kepala dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM kabupaten Sikka Ir.Lukman,Msi.Foto : Ebed de Rosary

Tercatat ada 110 kelompok tenun yang tersebar di 17 kecamatan minus Kecamatan Paga, Mego, Tanawawo dan Magepanda. “Untuk 2018 memang diberikan bantuan kepada 110 kelompok. Sementara untuk 2019 sudah dianggarkan juga bantuan untuk 90 kelompok tenun,” ungkap Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM Kabupaten Sikka, Ir.Lukman, Msi, Selasa (15/1/2019).

Selain bantuan benang dan alat bantu tenun, pemerintah daerah juga memberi pelatihan. Dalam hal ini proses mencelup benang ke bahan kimia. Bahan yang digunakan ramah di kulit dan tidak luntur, saat kain tenun dicuci. “Ada 4 kecamatan, rata-rata masyarakatnya menenun secara sendiri-sendiri dan tidak tergabung dalam kelompok. Sementara semua bantuan harus diberikan melalui kelompok,” sebutnya.

Rata–rata anggota kelompok berjumlah 15 orang dan maksimal 20 orang. Kelompok yang telah mendapatkan bantuan dan pelatihan, tidak mendapatkan bantuan lagi di tahun berikutnya. “Tahun berikutnya bantuan diberikan kepada kelompok yang belum menerima bantuan, sementara kelompok yang sudah menerima bantuan akan kami bina hingga bisa mandiri,” tandasnya.

Kepala Bidang Perindustiran, Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM Kabupaten Sikka, Tadeus Pega, menjelaskan, selain memberikan bantuan, pihaknya juga melatih semua anggota kelompok untuk mencelup benang. Hal itu diharapkan mendorong perajin tidak membeli benang warna produksi pabrikan. “Banyak benang yang berwarna produksi pabrikan mudah luntur. Dalam pelatihan ini, kami mengajarkan membuat benang warna melalui proses pencelupan dan menghasilkan 120 warna berbeda,” ungkapnya.

Kain yang mudah luntur tidak disukai pembeli. Banyak perancang busana dari Jakarta, yang memesan dan datang secara langsung ke sanggar-sanggar untuk membeli kain tenun. Yang dicari adalah kain yang menggunakan pewarna alami. “Bantuan tidak kami berikan ke sanggar atau kelompok yang sudah mandiri. Setelah didampingi dan mandiri dan mempunyai pasar sendiri, kelompok atau sanggar tersebut tidak didampingi lagi,” ungkapnya.

Pemerintah daerah, hanya memfasilitasi pembeli dari luar daerah untuk berhubungan langsung dengan kelompok perajin atau sanggar. Beberapa sanggar, seperti Watu Bo, Bliran Sina sudah memiliki pasar tersendiri.

Kolas Soge, Ketua Kelompok Tenun Santa Ana Kajowain, Kecamatan Talibura, mengapresiasi adanya bantuan pelatihan proses mencelup benang. Dari pelatihan tersebut, didapatkan 120 warna berbeda. “Setelah mendapatkan pelatihan ini kami akan mempraktekannya dan tentunya kami hanya membeli benang berwarna putih dari toko, sementara warna lainnya kami celup sendiri sesuai dengan kebutuhan,” pungkasnya.

Lihat juga...