Harga Stagnan, Garam Petani di Probolinggo Dijual ke Luar Daerah

PROBOLINGGO  – Garam petani di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, dijual ke luar daerah karena harga garam di wilayah setempat masih stagnan di kisaran Rp1.000 hingga Rp1.200 per kilogram.

“Untuk mendapatkan harga jual yang lebih tinggi, para petani lokal menjual garamnya ke luar daerah yang menjadi kabupaten tetangga,” kata salah seorang petani garam, Buhar, di Desa Pajurangan, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, Selasa.

Menurutnya, harga garam di pasar luar daerah lebih menggiurkan dibandingkan harga yang ditawarkan pedagang lokal di Kabupaten Probolinggo, sehingga petani menjual garam ke beberapa kabupaten/kota untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

“Harga garam di luar daerah bisa dua kali lipat dibandingkan harga lokal di Kabupaten Probolinggo karena saat ini harga jual di luar daerah paling murah Rp2.000 per kilogram,” tuturnya.

Ia menjelaskan, murahnya harga garam tersebut karena persediaan garam lokal melimpah dan harganya anjlok hingga Rp1.000 per kilogram, namun sebagian petani memiliki jaringan dengan pedagang luar daerah dan menjualnya ke pasar yang harga jualnya cukup bagus.

“Kami menjual garam untuk pengasinan ikan, sektor industri, dan pertanian ke Surabaya, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi dengan kapasitas 40 ton setiap bulan, sehingga diharapkan dapat meningkatkan keuntungan petani garam di Probolinggo,” ucap Buhar yang juga Ketua Himpunan Masyarakat Petambak Garam (HMPG) Kabupaten Probolinggo.

Buhar mengatakan, produksi garam di Kabupaten Probolinggo melimpah pada 2018, bahkan Pemerintah Kabupaten Probolinggo menargetkan sebesar 20.000 ton dan sepertinya bisa tercapai target tersebut.

“Saat harga garam murah di pasar lokal, para petani juga resah karena isu impor garam yang akan dilakukan pemerintah pada 2019 dengan alokasi sebanyak 2,7 ton, sehingga hal tersebut akan berdampak pada harga garam lokal,” katanya.

Isu impor garam, lanjut dia, membuat petani galau karena jika impor dilakukan, harga garam lokal akan anjlok, meskipun alasan pemerintah melakukan impor hanya untuk kebutuhan industri.

“Persoalannya terkadang garam impor itu juga masuk ke pasar konsumsi yang biasanya diisi oleh petani garam lokal. Di sisi lain kalau sudah ada impor, maka beberapa pabrik yang menjadi mitra petani tidak lagi menyerap garam lokal karena kualitas garam impor lebih baik,” ujarnya. (Ant)

Lihat juga...