Baru Ada Tiga Sektor Ekraf yang Menjadi Perhatian

Editor: Mahadeva

Anggota Komisi X DPR RI Mujib Rahmat - Foto M Amin

BEKASI — Baru ada tiga sektor potensi ekonomi kreatif (ekraf) yang mendapatkan perhatian di Indonesia. Ke-tiganya meliputi fashion, kuliner dan kriya seperti suvenir yang dipadukan dengan pariwisata.

“Komisi X DPR RI, sebagai mitra Badan ekonomi Kreatif, terus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia. Sebenarnya ekonomi kreatif ada 16 poin, tapi baru tiga yang menjadi perhatian khusus,” kata Anggota Komisi X DPR RI, Mujib Rahmat, di Kota Bekasi, Selasa (22/1/2019).

Ke-16 poin ekraf itu, diantaranya, industri perfilman, animasi, kuliner dan fashion, kriya. Kuliner dan suvenir dapat digandeng bidang pariwisata, karena witawan saat pulang membawa oleh-oleh dan kuliner Mujib menyebut, Indonesia  sangat kaya dengan menu kuliner. Ada lebih dari 250 ribu jenis kuliner di Indonesia. Komisi X DPR RI, disebutnya, sudah mendorong dibuat direktori, mengingat setiap daerah cukup kaya akan kuliner.

“Misalkan Padang, itu cukup luar biasa ragam jenis kulinernya. Begitupun kuliner Soto, untuk Pulau Jawa sendiri sudah puluhan jenis Soto mulai dari Jawa Timur, sampai Jawa Barat. Contohnya, Soto Kudus, Soto Malang, Betawi, Bogor dan lain sebagainya,” paparnya.

Di bidang kreativitas lainnya, Mujib menyebut, industri film di Indonesia perkembangnya sangat luar biasa. Dicontohkannya, film Dylan dan film Lima Jengkal Lagi. Keduanya dikreasikan generasi muda bangsa. Hal lainnya, dibidang animamsi untuk pembuatan game, menjadi kreativitas yang bernilai tinggi dan luar biasa di Indonesia.

Dari capaian kreativitas tersebut, diharapkan dapat ditunjang dengan keberadaan sekolah vokasi, seperti SMK fashion, dengan membuat produk kecantikan dan SMK yang membuat robotdan, semua didorong menjadi upaya pengembangan ekonomi kreatif.

“Teorinya sederhana Sumber Daya Alam (SDA) makin hari makin habis, batu bara habis, minyak habis dan sebagainya, tapi yang namannya ekonomi kreatif semakin diasah semakin Dia akan mendapat nilai lebih yang luar biasa,” ungkap Mujib.

Pariwisata tidak akan pernah habis. Jika diperbaiki justru akan meningkatkan devisa bagi negara. Tetapi tentunya, harus ada negara, guna mendukung kreativitas. “Saat ini saya, terlibat langsung dalam penyusunan tentang undang-undang ekonomi kreatif, supaya nanti ada kejelasan apakah perlu adanya menterinya sendiri atau badan langsung di bawah Presiden. Intinya adalah kita ingin mengembangkan ekonomi kreatif sebagai alternative dari pada ekonomi konvensional yang biasa,” pungkasnya.

Lihat juga...