Warga Lamsel, Manfaatkan Tanaman Herbal Atasi Gangguan Kesehatan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Peralihan musim kemarau ke musim penghujan, kerap mengakibatkan gangguan kesehatan. Guna mengatasi hal itu, sejumlah ibu rumah tangga di Dusun Way Baru, Desa Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, memanfaatkan obat herbal.
Astia (50), salah satu ibu rumah tangga, menyebut ramuan obat herbal yang masih dipertahankan berupa campuran rimpang dlingo dan bangle atau bengkle.
Dlingo yang kerap disebut jeringau dengan nama latin Ascorus calamus, menurut Astia sudah cukup akrab dikenal sebagai obat herbal.
Sebagai tanaman herbal yang kerap ditanam di halaman rumah, Astia sengaja memanfaatkan tanaman tersebut untuk mengatasi gangguan kesehatan.
“Tanaman menyerupai pandan dengan aroma khas daun Dlingo memiliki senyawa organik yang memiliki manfaat positif untuk masalah kesehatan,” katanya, di Way Baru, Bakauheni, Jumat (16/11/2018).
Menurutnya, manfaat dlingo itu antara lain ysebagai obat flu, perut kembung, menambah nafsu makan, meningkatkan imunitas tubuh, diare, cacingan dan banyak lagi.
Parutan dlingo dan bangle dicampurkan dengan air hangat, jeruk nipis dan madu untuk diminum sebagai obat herbal -Foto: Henk Widi
Rimpang dlingo, katanya, kerap dikombinasikan dengan tanaman herbal lain yang dikenal dengan Bangle atau Zingiber Casumounar. Sebagai tanaman rimpang menyerupai jahe, bangle kerap diramu bersama dengan dlingo.
Kesamaan manfaat Bangle untuk mengobati sakit kepala dan demam, meringankan perut nyeri, menambah nafsu makan, membuat kedua jenis herbal ini selalu dipadukan.
“Ramuan herbal dlingo dan bangle sudah turun temurun digunakan untuk mengatasi gangguan kesehatan, dan terbukti keampuhannya, kaum ibu jadi tidak repot harus membawa anggota keluarga ke dokter, apalagi saat malam hari pertolongan pertama langsung bisa diberikan,”ungkap Astia.
Astia yang merupakan warga asal Serang, Banten atau dikenal sebagai etnis Jawa Serang (Jaseng) di Lampung Selatan, juga menyebut, sejak ia tinggal di Banten ramuan herbal Dlingo Bangle sudah akrab digunakan masyarakat.
Proses meramu kedua jenis obat herbal tersebut bahkan masih sangat tradisional, dengan proses meracik kedua jenis rimpang melalui proses pemarutan.
Dlingo dan bangle yang sudah dicabut akan dibersihkan dari tanah dengan cara mencuci pada air mengalir, dan mengupas bagian kulitnya.
Pada cara-cara kuno, Astia bahkan menyebut sang ibu meramu rimpang dlingo bangle cukup dengan mengunyah kedua jenis rimpang secara bersamaan.
Kedua rimpang yang sudah dikunyah membentuk bubuk, lalu ditempelkan pada bagian anggota tubuh yang sakit. Saat seorang anak mengalami sakit kepala dan demam, ramuan dlingo bangle akan diborehkan atau dioleskan pada bagian rambut serta perut.
Proses pemijatan sekaligus dilakukan dengan ramuan tersebut pada bagian perut dan kepala, untuk mengurangi dan menyembuhkan sakit kepala disertai demam.
“Ramuan dlingo dan bangle bisa diterapkan untuk pengobatan dari luar tubuh, karena keduanya memiliki aroma khas bisa sebagai aroma terapi yang menenangkan dan berefek menyembuhkan,” beber Astia.
Rasa pedas pada dlingo dan bangle, lanjut Astia, memberikan efek hangat pada tubuh, sehingga selama musim hujan ramuan tersebut sangat cocok digunakan.
Pada zaman modern dengan adanya alat parut dan blender, racikan kedua jenis obat herbal tersebut semakin mudah dibuat. Saat anggota keluarga mengalami kedinginan, terutama anak-anak saat musim penghujan ramuan bisa dioleskan pada sekujur tubuh untuk menambah daya tahan tubuh.
Selain obat herbal dari bagian luar tubuh, ramuan herbal dlingo bangle sebagai obat demam dan sakit kepala bisa diaplikasikan sebagai jamu untuk diminum.
Astia menerapkan cara tersebut agar kandungan zat yang ada dalam dlingo dan bangle mudah terserap tubuh. Setelah dlingo dan bangle dicabut, dicuci bersih, keduanya diparut. Setelah parutan selesai, dibuat air panas dalam gelas dicampur jeruk nipis dan madu.
“Perasan dlingo bangle ditampung dalam gelas, dicampurkan dengan jeruk nipis serta madu, lalu diminum, efeknya bisa menghangatkan tubuh dan menyembuhkan demam,” terang Astia.
Sebagai obat sakit kepala, sakit perut dan mengatasi sejumlah gangguan kesehatan lain, dlingo bangle, masih banyak ditanam warga. Ramuan kedua jenis obat herbal tersebut dipertahankan oleh warga sebagai warisan kekayaan tradisi leluhur untuk mengatasi gangguan kesehatan.
Bagi anak-anak yang memiliki akivitas fisik aktif, sehingga nafsu makan berkurang, ramuan kerap dibuat dan diberikan agar nafsu makan bertambah.
Misnawati Anhar (40) salah satu warga Way Baru yang memiliki anak bernama Zarina (3), mengaku sang anak tengah demam, yang disebabkan oleh perubahan cuaca. Ia pun mengatasinya dengan memberikan ramuan dlingo bangle yang dibuatkan oleh Astia.
Astia menunjukkan tanaman bangle atau Zingiber casumounar -Foto: Henk Widi
“Setiap anak saya mengalami masalah kesehatan, ramuan ini juga saya berikan, sebab saya jarang menggunakan obat dari apotik,” cetus Misnawati Anhar.
Ramuan dlingo bangle yang dibalurkan pada tubuh sang anak juga sebagian dibuat menjadi minuman. Meski sang anak tidak menyukai aroma obat herbal tersebut, namun dengan adanya campuran madu dan jeruk nipis, menjadi mudah untuk diberikan.
Obat herbal tersebut akan memiliki khasiat yang cukup bagus saat diberikan dengan menggunakan air hangat.
Sebagai seorang wanita yang masih mempertahankan tradisi leluhur, Misnawati Anhar mengakiu masih menggunakan kedua jenis ramuan tersebut untuk berbagai keperluan lain.
Wanita yang pernah bekerja di Arab Saudi tersebut bahkan menyebut, di negara tempatnya bekerja,aroma terapi herbal dlingo dan bangle kerap digunakan sebagai pengharum ruangan. Selain itu, bagi wanita yang datang bulan, ramuan tersebut kerap diminum sekaligus untuk mengencangkan kulit.
Selain sebagai obat herbal,salah satu kegunaan dlingo bangle yang masih dimanfaatkan Asnawati di antaranya dipercaya bisa mengusir makhluk halus. Sebagai penangkal sawan atau penyakit saat ada orang meninggal, sang ibu yang memiliki dlingo bangle akan mengunyah rimpangnya dan meletakkan di ubun-ubun bayi atau rambut dan sekujur tubuh.
Dipercaya sebagai penolak bala saat akan bepergian, rimpang dlingo dan bangle akan dirangkai dengan benang atau peniti dan diletakkan dalam baju sang anak.
Kepercayaan tersebut masih diterapkan saat zaman modern dengan tujuan menghindarkan anak dari gangguan negatif.
Lihat juga...