Varian Gatot Singkong Picu Cinta Anak Kekinian Terhadap Kuliner Tradisional

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Singkong, salah satu hasil bumi populer di Indonesia ternyata tidak ada habisnya untuk dikreasikan. Berbagai cara dan varian terus bermunculan untuk menemani berbagai musim.

Seperti yang dilakukan Suyatinah, salah satu warga Penengahan, Lampung Selatan. Pemilik kebun singkong ini memanfaatkan hasil lahannya untuk pembuatan makanan tradisional, di antaranya gatot singkong.

Gatot singkong, warisan tradisi kuliner yang sudah turun temurun ini akan lebih mudah dilakukan saat musim kemarau karena didukung penjemuran memanfaatkan sinar matahari.

Salah satu jenis singkong yang kerap digunakan yakni singkong roti. Dengan memiliki tekstur lembut, banyak tepung pati dan lebih renyah.

Singkong yang sudah dicabut selanjutnya dikupas, dipotong ukuran memanjang untuk proses penjemuran. Pada kondisi panas maksimal, penjemuran membutuhkan waktu dua hari hingga kering sempurna.

“Gaplek yang sudah kering akan dibersihkan dalam rendaman air selama satu malam untuk menghilangkan kemungkinan adanya debu atau kotoran sekaligus membuat lebih empuk dan renyah,” terang Suyatinah.

Sekali proses membuat ia hanya membutuhkan 500 gram gaplek yang selanjutnya direndam, dikukus dengan menggunakan dandang khusus. Diikuti dengan pemarutan kelapa setengah tua untuk taburan disertai garam.

Gaplek yang sudah dikukus menjadi gatot ditandai dengan tekstur yang lembut, aroma khas singkong. Gatot selanjutnya dihamparkan dalam wadah khusus untuk diberi taburan parutan kelapa yang gurih dengan campuran garam.

Disinilah kreatifitas dibutuhkan, agar disukai anak anak, ia memberikan tambahan taburan parutan keju serta mesis.

“Taburan keju parut tentunya akan menambah gurih sebagai varian gatot yang saya buat sehingga cucu akan suka memakannya,” beber Suyatinah.

Gatot yang dibuat bahkan dapat disajikan dengan cara berbeda. Setelah dikukus bisa digoreng menggunakan tepung. Gatot yang digoreng kerap disajikan dengan cocolan sambal tomat.

Singkong yang sudah menjadi gaplek dikukus dalam wadah khusus hingga matang menjadi gatot. Foto: Henk Widi

Aryo, salah satu anggota keluarga menyebutkan, gatot dengan tekstur kenyal dan lembut tersebut lebih lezat dinikmati dalam kondisi hangat. Kandungan karbohidrat yang cukup dominan menjadi salah satu cara mengganti asupan nasi saat sarapan.

“Sarapan tradisional yang menjadi kekayaan tradisi salah satunya gatot, sama seperti menikmati roti pagi hari,”beber Aryo.

Pembuatan varian gatot dengan dikukus, digoreng serta taburan (topping) dengan parutan kelapa, parutan keju sekaligus menjadi cara menambah cita rasa. Selain kerap disajikan pada pagi hari, gatot singkong juga kerap dibuat saat siang hari sebagai teman bersantai ditemani secangkir kopi atau teh hangat.

Gatot juga kerap disajikan dalam acara acara khusus pertemuan keluarga sebagai varian camilan di antara camilan lain.

Lihat juga...