Sebaran Debu GAK Terpengaruh Angin, Warga Diminta Tidak Panik
Editor: Mahadeva WS
LAMPUNG – Paparan debu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK), yang sempat mengarah ke wilayah Kalianda, Lampung Selatan dan sekitarnya, terpengaruh arah angin.

Andi Suardi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Gunung Anak Krakatau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membenarkan, adanya potensi sebaran abu renik berwarna kehitaman dari GAK. Debu vulkanik terbawa angin mengarah ke perkampungan warga. Arah angin bertiup ke Barat, menjadikan warga Kalianda merasakan dampak guyuran abu. Warga di Kecamatan Rajabasa, Kalianda dan Sidomulyo, merasakan pedih di mata saat berada di luar ruangan.
Meski demikian, arah angin yang berubah-ubah, membuat debu vulkanik kembali mengarah ke Selatan ke arah Samudera Hindia serta wilayah Banten. “Aktivitas Gunung Anak Krakatau memang fluktuatif, terkadang kolom abu disertai material debu vulkanik bergerak ke arah timur, barat, utara, selatan menyesuaikan arah angin,” terang Andi Suardi, saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (19/11/2018).
Saat erupsi seperti sekarang ini, debu vulkanik rutin keluar dari kepundan GAK. Namun ketinggian kolom abu selalu berbeda-beda setiap harinya. Sementara arah angin mempengaruhi jatuhnya debu yang dilontarkan dari GAK. Tercatat, jika debu bisa mencapai Rajabasa, Kalianda hingga Sidomulyo, dipastikan ketinggian kolom abu mencapai 600 meter. Sementara, kecepatan angin di perairan mencapai 10 hingga 15 knots, mengarah ke barat.
Pada kondisi normal, letusan GAK memiliki ketinggian kolom hanya 300 meter. Dalam kondisi normal, debu vulkanik lebih banyak jatuh ke laut. Fenomena erupsi GAK yang aktif setiap hari, tidak menimbulkan kepanikan. Paparan debu vulkanik tidak membuat warga resah. Mengantisipasi paparan debu saat berada di luar ruangan, masyarakat diminta menggunakan pengaman berupa kaca mata dan masker.
Masyarakat nelayan di sekitar Selat Sunda, diminta untuk menyesuaikan arah angin. Saat angin mengarah ke Timur, nelayan diminta mencari arah berlawanan. Sesuai data dari Volcanik Activity Report (VAR) pada Senin (19/11/2018), laporan aktivitas gunung api, secara visual gunung terpantau samar karena kabut. Secara visual, dari pos pengamatan, gugusan kepulauan Krakatau terlihat jelas saat kondisi cuaca cerah.
Pada Senin, angin bertiup lemah hingga sedang, mengarah ke Timur Laut. Ketinggian asap kawah teramati berwarna kelabu dan hitam, dengan intensitas tebal. Kolom memiliki ketinggian 200 meter di atas puncak kawah.
Secara visual pada malam hari, baik secara langsung maupun melalui CCTV, teramati sinar api, aliran lava pijar ke arah Selatan dan lontaran lava pijar ke segala arah. Aktivitas kegempaan, didominasi tremor menerus (microtremor) dan terekam dengan amplitudo 20-58 mm (dominan 56 mm).
Kondisi tersebut masih menempatkan tingkat aktivitas GAK pada level II atau waspada. Masyarakat serta wisatawan direkomendasikan tidak mendekat kawah dalam radius dua kilometer dari kawah.