Sanggar Borneo Khatulistiwa, Lestarikan Budaya Dayak
Editor: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Alunan musik tradisi Suku Dayak mengiringi gerakan gemulai para penari dalam lakon Ratu Luwing.
Lenggokan gemulai penari belia itu berpadu ayunan tangan dengan sekali-kali tubuh mereka pun berputar mengikuti alunan musik.
Dengan gerak lincah berbagai arah, mereka tetap semangat tanpa lelah terlihat dari pancaran mata dan senyum bahagia.
Pemandangan memukau ini menghiasai Anjungan Kalimantan Barat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (17/11/2018) sore.
Mereka sedang berlatih menari ‘Ratu Luwing’ khas Dayak yang bernaung di bawah Sanggar Borneo Khatulistiwa binaan Diklat Seni Anjungan Kalimantan Barat TMII. Mereka berlatih setiap Kamis dan Sabtu pukul 16.00-17.30 WIB.
“Ratu Luwing ini tarian khas Dayak Kalimantan Barat. Tarian ini mengisahkan kecantikan Ratu Luwing,” ujar pelatih Sanggar Borneo Khatulistiwa, Haduji Adia Pabelan, kepada Cendana News.
Dia merasa bangga melihat antusias anak-anak yang berlatih menari di Sanggar Borneo Khatulistiwa. Mereka, menurutnya, sangat menjiwai setiap gerakan tari yang diajarkan.

Terpenting lagi, sebut dia, mereka bisa mencintai ragam kebudayaan daerah dari seluruh provinsi Indonesia, salah satunya tari tradisi suku Dayak Kalimantan Barat.
Begitu pula dengan tarian dari provinsi lainnya, seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh, Jawa Barat.
“Dengan latihan menari daerah, perlahan cinta budaya itu akan tumbuh dalam diri mereka,” kata Adi, demikian panggilannya.
Dijelaskan Adi, peserta Ssanggar Borneo Khatulistiwa tercatat 30 orang dari berbagai sekolah dan daerah. Dalam latihan tari khas Dayak Kalimantan Barat, terdiri dari berbagai tingkatan.
Setiap enam bulan sekali, hasil latihan menari akan diujikan. Ujian ini, menurutnya, sebagai penilaian layak tidaknya mereka naik kelas ke tingkat latihan berikutnya.
Menurutnya, Kalimantan Barat adalah provinsi multietnik yang terdiri Suku Melayu, Dayak dan Tionghoa. Sanggar Borneo Khatulistiwa juga menyajikan ragam tarian saat melatih pesertanya. Seperti Tidayu, yaitu kreasi tari yang menggambarkan keharmonisan Tionghoa, Dayak dan Melayu.
Selain Tidayu, juga tari Enggang, Gawai, Boren, Ruai, Anggrek dan tarian khas Dayak lainnya.
Dalam pelestarian seni budaya Kalimantan Barat, Adi merasa bangga, karena anak didiknya sering tampil tidak hanya di acara yang digelar TMII. Seperti parade tari daerah, parade lagu daerah dan HUT Hari Cinta Puspa serta Satwa Nasional (HCPSN) 2018 di Candi Bentar TMII, pada Oktober lalu.
Selain itu, lanjut dia, sanggarnya juga kerap tampil di istana negara dan kedutaan besar (Kedubes) Amerika Serikat, Nusa Dua Fiesta (NDF) 2014 dan lainnya. Bahkan sanggarnya pernah tampil di luar negeri. Tampil di luar negeri mewakili Indonesia mempromosikan budaya bangsa.
“Tahun 2011, Sanggar Borneo Khatulistiwa tampil di Perancis dalam kompetisi budaya mewakili Indonesia, dan meraih juara pertama,” kata Adi.
Menurutnya, mewakili Indonesia menjadi kebanggaan yang tak terlupakan bagi Adi dan peserta sanggarnya.
Adi juga bangga bisa melatih tari khas Dayak di TMII. Menurutnya, TMII sebagai miniatur Indonesia mempunyai peran dalam pelestarian dan pengembangan budaya melalui sarana edukasi. Seperti sanggar-sanggar seni yang ada di setiap anjungan daerah.
“Sanggar Borneo Khatulistiwa ini, sarana edukasi budaya untuk generasi milenial,” tandasnya.
Adi berharap, generasi milenial Indonesia tidak mengotak-kotakkan suatu daerah dengan daerah lain. Tapi menurutnya, mereka harus bisa saling menghormati dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
“Budaya adalah senjata ampuh pemersatu bangsa. Generasi muda harus menjaga budaya agar tidak diakui bangsa lain. Semua tarian Indonesia perlu kita pelajari, seperti Kalimantan Barat dengan tarian Dayak atau Jawa Barat dengan tarian khasnya,” ungkapnya.
Menurutnya, TMII sampai sekarang tetap menjaga dan melestarikan kebudayaan Indonesia. Dia juga berharap pemerintah daerah (Pemda) terus mendukung mengembangkan kebudayaan Dayak, Melayu dan Tionghoa di Sanggar Borneo Khatulistiwa.
“Sekarang sudah diperhatikan, tetapi kami berharap lebih diperhatikan lagi biar tambah semangat,” ujarnya.
Mauna Praktika Mulia, salah satu peserta Sanggar Borneo Khatulistiwa mengaku senang latihan menari khas Dayak.
Ia juga mengaku kalau dirinya belajar tari Betawi di sanggar lain di luar TMII. Tapi khusus tari Dayak, ia belajar di Anjungan Kalimantan Barat.
“Tari etnik Kalimantan Barat ini bikin saya jatuh cinta, maka saya sepenuh jiwa berlatih,” ujar Mauna.