Film ‘Damai Dalam Kardus’ Memenangkan Eagle Awards 2018

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Film ‘Damai Dalam Kardus’ memenangkan Eagle Awards Documentary Competition (EADC) 2018. Film karya sutradara Andi Imli Utami Irwan dan Suleman Nur itu menyisihkan film-film finalis lainnya.

Adapun, film ‘Menabur Benih di Lumpur Asmat’ terpilih sebagai juara kedua, dan film ‘Pusenai The Last Dayak Basap’ juara ketiga.

Garin Nugroho – Foto: Akhmad Sekhu

Garin Nugroho sebagai Ketua Juri, membeberkan bahwa film ‘Damai Dalam Kardus’, bercerita tentang bagaimana peristiwa di wilayah konfik sebuah keluarga yang suaminya berbeda agama.

“Kalau dulu berbeda agama itu antarsuku atau antarkelompok, tapi ini menceritakan seorang anak yang merindukan ayah dan ibunya duduk bersama karena berbeda agama di tengah wilayah konflik, dan itu terjadi di antara sudut kehidupan kita, jadi ada semacam humanisme dan nasionalisme yang ada dalam konflik wilayah dengan narasi-narasi individu,“ beber Garin dalam acara Anugerah Eagle Awards Movie Premiere di Bioskop CGV, Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (31/10/2018) malam.

Adapun, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH, menyambut baik karya pemenang tersebut.

“Film ini merefleksikan kebangsaan yang luar biasa. Realitas sosial yang alami tanpa motivasi apapun. Khusus film ‘Damai Dalam Kardus’ ini, kebetulan saya hadir ada di sana dan melihat kehancuran betul,” ungkapnya.

Dia menambahkan, situasinya tergambar dalam film ini. “Mudah-mudahan ini menjadi semangat kita untuk kebaikan bangsa kita,“ imbuhnya.

Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH – Foto: Akhmad Sekhu

Film ‘Damai Dalam Kardus’ berkisah tentang Gunawan (30), yang lahir dan tumbuh di tengah kerusuhan agama yang berlangsung di Poso selama lebuh dari satu dekade. Kerushan ini tidak hanya menghancurkan kotanya, tapi juga memecah keutuhan keluarganya sehingga ibunya yang Muslim dan ayahnya yang seorang Kristiani harus berpisah.

Bertahun-tahun hidup terpisah dari ayahnya membuat Gunawan dendam terhadap konflik agama yang terjadi di Poso. Itulah yang membawanya menjelajah Poso bersama kardus-kardus berisi buku, menembus daerah terpapar konflik hingga ke wilayah basis teroris untuk membawa pesan perdamaian. Bersama puluhan kardusnya juga, Gunawan percaya suatu saat akan menemukan ayahnya.

Atas kemenangannya masing-masing mendapat kamera profesional untuk menunjang mereka berkarya. Sutradara Andi Imli Utami Irwan dan Suleman Nur, mendapat hadiah Rp100 juta, sutradara film ‘Menabur Benih di Lumpur Asmat’ mendapat hadiah Rp50 juta, dan sutradara film ‘Pusenai The Last Dayak Basap’ mendapat hadiah Rp25 juta.

Selain itu, mereka mendapat fasilitas beasiswa pasca sarjana dan bebas memilih di universitas yang diinginkan.

Lihat juga...