DLH Malang: Masalah Sampah Takkan Selesai Tanpa Kesadaran Masyarakat
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
MALANG — Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kota Malang, Agoes Edy Poetranto menyebutkan, permasalahan sampah tidak akan pernah selesai jika hanya mengandalkan pola kumpul, angkut, buang, tanpa diiringi kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dan menerapkan konsep Reduce, Reuse dan Recycle (3R).
“Sampai kapanpun masalah sampah tidak akan pernah selesai karena pada akhirnya akan mengalami penumpukan sampah di TPA. Terbukti, masyarakat kota Malang setiap harinya masih memproduksi sampah sebanyak kurang lebih 510 ton per hari,” sebutnya usai peluncuran Gerakan Bawa Kantong Belanja dari Rumah, di Bank Sampah Malang (BSM), Kamis, (15/11/2018).
Penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ini nantinya justru akan menjadi bom waktu jika tidak ada pengurangan sampah di tingkat sumber, yakni masyarakat.
Menurutnya, dengan terpilahnya dan penerapan 3R, jumlah yang masuk ke (TPA) semakin berkurang.
Hanya saja, disampaikan Agoes, selama ini pemilahan masih sering menjadi masalah, karena perilaku masyarakat di Indonesia yang pada umumnya lebih sering membiarkan tercampur pada satu wadah.
“Perilaku tersebut sudah terjadi bertahun-tahun sehingga sudah menjadi budaya di masyarakat untuk membuang sampah secara tercampur,” katanya.
Padahal menurutnya, DLH kota Malang setiap tahun telah mencontohkan dengan menempatkan dua pemilahan sampah, bahkan lebih, berupa tong sampah organik dan anorganik di tempat-tempat umum. Tetapi keberadaannya kerap kali diabaikan oleh masyarakat.
Beruntung, kota Malang sudah memiliki Bank Sampah Malang (BSM) yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menabung sampahnya. Sehingga dengan begitu perlahan masyarakat sudah mulai menerapkan pemilahan sampah.
“Kegiatan pemilahan sebelum ada BSM sangat sulit sekali diterapkan, karena pola pikir pada umumnya yang memandang sampah sebagai barang buangan dan harus dijauhi. Secara tidak langsung, pemilahan yang dilakukan oleh nasabah BSM telah mengubah perilaku masyarakat,” terangnya.
Untuk itu, semua masyarakat khususnya Ibu-ibu PKK di kota Malang dilibatkan dalam rangka untuk pengurangan, pengolahan dan penanganan sampah sehingga bisa menjadi gaya hidup. Karena sebenarnya jika dimanfaatkan, justru bisa meningkatkan aspek ekonomi masyarakat.
“Sampah sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang menjijikkan atau kotor. Namun merupakan rejeki bagi masyarakat,” pungkasnya.