Distribusi Pupuk Secara Daring Mencegah Keterlambatan
Editor: Mahadeva WS
LAMPUNG – Hujan yang mulai turun dengan intensitas sedang, dimanfaatkan petani di Lampung Selatan untuk mulai bercocok tanam. Saat ini, sebagian tanaman sudah mulai membutuhkan pemupukan.

Wardal, salah satu petani penanam cengkih dan jagung di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan menyebut, jagung yang ditanamnya sudah berusia 15 Hari Setelah Tanam (HST). Sementara cengkih, yang sudah berusia enam tahun, mulai memasuki masa berbunga. Kedua tanaman tersebut mulai membutuhkan pemupukan tahap pertama.
Kebutuhan berbagai jenis pupuk, seperti Urea, NPK, SP-36, sejak tiga tahun terakhir didapatkan melalui Kelompok Tani (Poktan). Poktan Desa Hargo Pancuran, memenuhi kebutuhan sesuai dengan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) kebutuhan setiap petani.
Jumlah anggota Poktan Desa Hargo 20 orang. Total kebutuhan pupuk mencapai 20 ton, dengan setiap petani jumlahnya berbeda-beda. Penyusunan RDKK dilakukan dengan metode Dalam Jaringan (Daring). Sistem pembelian secara daring, atau dikenal dengan billing system, menjadikan penyediaan pupuk lebih efesien. Penyediaan bisa menyesuaikan masa tanam. Poktan bisa membeli pupuk, sesuai alokasi kebutuhan pupuk dua bulan sebelum masa tanam.
Cara tersebut, memberi kesempatan petani untuk bisa mempersiapkan lahan, dan menebus pupuk, dengan lebih leluasa. Sistem tersebut, mampu mencegah keterlambatan, serta kekurangan pasokan pupuk bersubsidi. “Kebutuhan pupuk bersubsidi sekarang sudah diatur oleh Kementerian Pertanian melalui pembelian kelompok, sehingga anggota tidak perlu khawatir kehabisan stok, asal sudah menyiapkan dana untuk membeli pupuk,” terang Wardal saat ditemui Cendana News,Kamis (8/11/2018).
Sistem tersebut mampu mencegah terjadinya penimbunan pupuk bersubsidi, yang bisa dilakukan oleh pemilik modal. Pengawasan distribusi pupuk, diawasi oleh Bintara Pembina Desa (Babinsa). Setiap Koramil ikut dilibatkan dalam upaya khusus swasembada pangan. Penambahan pupuk yang kurang, bisa dilakukan oleh petani dengan membeli pupuk nonsubsidi di toko pertanian.
Wardal yang menanam jagung di lahan seluas empat hektare, membutuhkan pupuk empat ton untuk sekali pemupukan. Pupuk sudah disiapkan sejak dua bulan sebelum penanaman, sehingga saat memasuki masa pemupukan pertama sudah tersedia. “Perhitungan kebutuhan pupuk bersubsidi telah dihitung sehingga proses penebusan bisa dilakukan kepada poktan,” beber Wardal.
Petani lainnya, Wongso, warga Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni, sudah menanam benih jagung varietas hibrida jenis NK dan Bisi. Penanaman jagung saat hujan mulai turun, cukup menguntungkan. Petani tidak perlu khawatir kekeringan, dan potensi hidup benih cukup tinggi. “Saya menanam jagung disela sela tanaman sengon dan proses pemupukan memiliki fungsi ganda ikut memupuk tanaman sengon,” beber Wongso.
Wongso membeli pupuk NPK, Urea,SP-36 melalui kelompok. Pembelian sering ditalangi, atau dibayar terlebih dahulu oleh ketua kelompok. Bagi pemilik uang, pembelian pupuk bersubsidi bisa dilakukan sebulan sebelum pendistribusian. “Bagi pembeli yang belum memiliki uang, pembayaran bisa dilakukan setelah panen,” pungkasnya.