Baru Sembilan Puskesmas di Sikka yang Lolos Akreditas  

Editor: Mahadeva WS

MAUMERE – Dari 25 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang tersebar di kabupaten Sikka, hanya sembilan yang lolos akreditasi.

Puskesmas di Sikka saat ini terdiri dari 13 Puskesmas rawat inap dan 12 Puskesmas non rawat inap. Di 2019, akan disiapkan akreditasi untuk enam Puskesmas dan satu Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).

Kepala dinas Kesehatan dr.Maria Bernadina Sada Nenu,MPH.Foto : Ebed de Rosary

“Jumlah puskesmas yang lolos akreditasi di 2016 ada sembilan. Di 2018, sudah dilakukan penilaian sembilan puskesmas, pada September dan Oktober. Kita masih menunggu hasil akreditasinya,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, dr. Maria Bernadina Sada Nenu, MPH, Jumat (16/11/2018).

Di Sikka, saat ini jumlah Puskesmas Pembantu (Pustu) ada 61 unit. Kemudian ada 120 Poliklinik Desa (Polindes), 46 unit Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan tiga rumah sakit. Satu rumah sakit yaitu Rumah Sakit Umum Daerah TC. Hillers Maumere. Dan dua rumah sakit type D yaitu, Rumah Sakit St. Elisabeth Lela dan Rumah Sakit St. Gabriel Kewapante.

Di Sikka juga ada 20 apotek, tiga optik, 25 Pukesmas rawat inap bersalin, dua balai pengobatan swasta, sebuah laboratorium kesehatan keliling, laboratorium swasta ada sembilan dan sebuah laboratorium gras checker Malaria. Jumlah tenaga kesehatan yang tersebar di seluruh fasilitas kesehatan, baik rumah sakit, Puskesmas, Laboratorium dan Instalasi Farmasi, di Sikka ada 1.740 orang. “mereka terdiri dari tenaga kesehatan 1.352 orang, dan non kesehatan 388 orang,” paparnya.

Keberadaan semua fasilitas kesehatan di Sikka tersebut, untuk membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan terus berbenah, memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat. “Angka kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Sikka, sampai dengan September 2018 sudah 90,7 persen. Diharapkan pada 1 Desember 2018, bisa mencapai 95 persen,” terangnya.

Anggota DPRD Sikka, Yohanes A,J.Lioduden, berharap pemerintah bisa membangun puskesmas untuk melayani warga di gugus pulau, seperti Kojadoi, Kojagete dan Parumaan. “Masyarakat kepulauan selalu menyampaikan kepada kami untuk memperjuangkan hal ini. Kami sudah sampaikan kepada pemerintah, namun sampai saat ini masih dilakukan kajian,” sebutnya.

Tidak adanya Puskesmas di kawasan kepulaun, membuat warga di ketiga pulau tersebut, jika membutuhkan pelayanan medis, harus berobat ke Maumere. Mereka harus menempuh perjalanan menggunakan kapal motor tradisional selama lebih dari satu lebih.

Lihat juga...