Sumsel Masih Pantau Daerah Rawan Karhutla

Ilustrasi penanganan Karhutla - Foto: Dokumentasi CDN

PALEMBANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), terus memantau daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Musim panas seperti yang terjadi saat ini, meningkatkan kewaspadaan pemerintah daerah setempat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Iriansyah mengatakan, pihaknya terus berusaha, supaya tidak ada karhutla di daerah tersebut. “Adanya kebakaran hutan dan lahan, dikhawatirkan akan memunculkan kabut asap seperti pada 2015,” ujar dia.

Di Sumsel, areal hutan masih cukup luas, sehingga kelestariannya harus selalu dijaga. Di Sumsel juga banyak lahan gambut, dan bila terbakar sulit untuk dipadamkan.

Sementara, Gubenur Sumsel, Herman Deru, telah memerintahkan supaya daerah tersebut bisa bebas kabut asap, akibat adanya kebakaran hutan dan lahan. Sehubungan dengan hal tersebut, BPBD Sumsel, terus memantau potensi titik api, terutama di daerah rawan terjadi bencana karhutla.

Daerah-daerah tersebut adalah, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Musi Banyuasin dan daerah yang terdapat lahan gambut. “Pemantauan itu penting karena bila ada titik api pihaknya secepatnya melakukan pemadaman,” ujar dia.

Selain itu, BPBD Sumsel, rutin melaksanakan koordinasi dengan kabupaten dan kota, untuk mengantisipasi dan pencegahan potensi bencana tersebut. Selama ini, terutama saat pelaksanaan Asian Games Agustus lalu, Sumsel aman dari kabut asap, karena tidak terjadi kebakaran hutan yang berarti.

Sementara itu, Satuan Tugas (Satgas) gabungan pencegahan dan penanggulangan Karhutla, Sumsel tetap siaga hingga akhir Oktober 2018. Hujan yang mulai turun, belum menyurutkan upaya untuk siaga memantau potensi karhutla. “Satgas kebakaran hutan dan lahan hingga akhir bulan ini masih tetap siaga sehingga masalah asap yang dapat mengganggu kesehatan serta aktivitas masyarakat bisa dicegah,” tambah Iriansyah.

Kegiatan operasi darat dilakukan di 55 desa, di wilayah Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir dan Banyuasin, yang tergolong sangat rawan terjadi karhutla. Satgas gabungan BPBD dibantu personel TNI, Polri, kelompok masyarakat peduli api, serta Manggala Agni, berupaya melakukan tugas secara maksimal.

Selain melakukan operasi darat, juga dilakukan operasi udara, dengan menurunkan enam unit helikopter jenis MI 17, MI 8, dan Bolkow. Helikopter tersebut diturunkan untuk membantu pemadaman, dengan melakukan pengeboman air pada titip api yang sulit dijangkau oleh tim operasi darat, dan membasahi lahan di sekitar lokasi kebakaran hutan dan lahan sebagai tindakan pencegahan. “Selain membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), helikopter tersebut dimanfaatkan secara intensif melakukan pemantauan kawasan hutan dan lahan yang rawan terbakar untuk diinformasikan kepadavsatgas yang melakukan operasi darat,” katanya.

Selain melakukan berbagai tindakan antisipasi, BPBD juga mengimbau seluruh lapisan masyarakat di provinsi yang memiliki 17 kabupaten dan kota tersebut, agar tidak membuka lahan pertanian dan perkebunan dengan cara membakar. (Ant)

Lihat juga...