Pria Bantul Lulusan STM ini Mampu Ciptakan Ratusan Alat Musik Etnik
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
YOGYAKARTA — Seorang pemuda asal desa Palbapang, Bantul, Arya Sungkowo Aji (33) yang lulusan STM jurusan permesinan mampu menciptakan ratusan jenis alat musik etnik tradisional dari berbagai daerah di Nusantara bahkan mancanegara.
Hebatnya, berbagai alat musik seperti Suling dan Calung asal Sunda, Ketambung dan Tab-Tab asal Kalimantan, Saron Bali, Totoboang asal Sulawesi hingga Hand Pen dari New Zealand hingga Digeridoo dari Australia ia buat dengan hanya melihat referensi di internet.
Selain biasa dipesan oleh sejumlah mahasiswa jurusan seni, berbagai alat musik buatannya juga telah dipasarkan ke sejumlah kelompok kesenian atau sanggar di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatera, Kalimantan hingga Sulawesi. Bahkan ada yang juga dipasarkan hingga ke luar negeri seperti Brunei Darussalam.
“Awalnya saya dulu hanya buat alat musik gamelan saja. Tapi karena banyak konsumen meminta dibuatkan berbagai alat musik etnik dari berbagai daerah, akhirnya saya coba-coba dengan lihat foto dan video di internet, dan ternyata berhasil,” ujarnya saat ditemui Cendana News, Selasa (23/10/2018).
Memulai usaha sekitar 2013, Arya mengaku awalnya sempat dilarang oleh orangtuanya untuk menggeluti usaha di bidang kesenian. Ia yang semula berkeinginan masuk Sekolah Menengah Kesenian (SMKI), akhirnya terpaksa masuk ke STM jurusan permesinan.
“Bapak saya sebenarnya juga bergelut di bidang kesenian. Karena mencari uang dari keseninan itu sulit dan saya pun dilarang masuk sekolah seni. Hingga akhirnya saya masuk STM. Namun ternyata, ilmu tentang pengelasan yang saya peroleh tetap mengantarkan saya ke dunia seni. Yakni membuat alat musik khususnya dari bahan logam,” ungkapnya.
Sebelum membuka usaha mandiri pembuatan alat musik gamelan dan etnik lainnya, Arya mengaku sempat menimba ilmu dengan bekerja di tempat produksi alat musik khusus gamelan di daerah Gamping Sleman selama lima tahun. Setelah berkeluarga ia memutuskan keluar dan membuka usaha mandiri di dusun asalnya Palbapang Bantul.
“Awalnya saya hanya buat alat musik gamelan saja. Seperti gong, kempil, suwuk, gender, slenthem, bonang, saron, demung, peking gambang, kenong hingga kendang. Tapi setelah itu saya coba-coba buat alat musik etnik dari berbagai daerah, yang jarang ada. Modalnya cuma liat foto dan video di Google dan YouTube,” jelasnya.
Meski harus bersusah payah melakukan eksperimen terus-menerus, namun Arya mengaku selalu tertantang membuat alat musik yang belum pernah dilihatnya secara langsung, karena ada kepuasan tersendiri. Yakni ketika alat musik buatannya, bisa berfungsi dengan baik dan dapat digunakan untuk mementaskan sebuah pertunjukan musik.
“Membuat alat musik itu susah-susah gampang, karena tidak sekedar harus buat persis seperti aslinya. Baik ukuran maupun bentuknya. Tapi juga harus berfungsi. Yakni memiliki tinggi rendah nada suara seperti yang diinginkan,” katanya.

Dibantu empat orang karyawannya, Arya mengaku biasa memproduksi 1-2 set alat musik yang terdiri dari 7-8 item dalam sebulan. Alat musik yang paling banyak ia produksi berupa perangkat gamelan yang kerap digunakan untuk kesenian jathilan. Sementara alat musik tertentu seperti karawitan, atau alat musik etnik lainnya hanya ia buat ketika ada pesanan.
“Kalau soal harga tergantung jenis dan bahannya. Untuk satu set gamelan yang terbuat dari bahan besi berkisar 13-14 juta rupiah. Untuk alat musik satuan seperti Bonang dan Ganong itu paling murah Rp150 ribu. Yang paling mahal ada sampai Rp30juta, seperti gong perunggu yang ukurannya 1 meter,” tutupnya.