Peternak di Pesisir Selatan Gelisah Ancaman Virus Jembrana
Editor: Satmoko Budi Santoso
PESISIR SELATAN – Masyarakat di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, yang memiliki ternak dihantui rasa takut dengan ancaman wabah virus jembrana.
Hal ini seiring adanya sejumlah ternak sapi mati di Provinsi Lampung dan beberapa daerah di Pulau Jawa, akibat terkena wabah virus jembrana.
Salah seorang warga di Kecamatan Sutera, Linis, mengatakan, sangat khawatir adanya virus jembrana itu, karena sampai saat ini masyarakat yang memiliki ternak sapi belum mengenali gejala terkena virus jembrana. Juga belum tahu cara untuk mengatasi serta melakukan pengobatan.
“Saat ini ancaman di daerah saya sudah mulai ke sawah. Jadi ternak-ternak yang ada harus dikurung di kandang, dan sehari-hari dikasih makan rumput yang diambil dari kebun. Apakah kondisi ternak di dalam kandang saja bisa terinfeksi virus jembrana, atau bisa melalui rumput yang diambil dari kebun? Hal yang demikian yang belum bisa dikenali. Kalau tahu, tentu bisa diatasi sedini mungkin,” katanya, Jumat (26/10/2018).
Linis menyebutkan, perlu rasanya pemerintah memberikan penjelasan kepada masyarakat, supaya wabah virus jembrana tidak melanda bagi peternak di daerah Kabupaten Pesisir Selatan. Apalagi, cukup banyak masyarakat setempat menjadikan ternak sapi sebagai pekerjaan atau sumber mata pencaharian.
Menyikapi hal ini, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kabupaten Pesisir Selatan, Hazrita, mengatakan, informasi seputar virus jembrana memang telah tersebar di pemberitaan. Namun sejauh ini, daerah yang terkena wabah itu, sangat jauh dari daerah Sumatera Barat. Untuk itu, kepada masyarakat diminta untuk tidak terlalu panik, mengetahui adanya virus jembrana.

Ia menjelaskan, saat ini di daerah Pesisir Selatan masih aman dari ancaman wabah virus jembrana. Jika pun ada informasi yang beredar bahwa ada sapi yang terkena virus jembrana, perlu lagi untuk dicek ulang, supaya tidak termakan isu hoax.
“Memang ada sapi milik masyarakat yang lagi sakit lalu dikandangkan. Tapi itu bukan wabah virus jembrana, hanya sakit sapi pada umumnya. Mungkin sapi yang sakit itu akan pulih kembali,” ucapnya.
Ia berpesan, jika peternak menemukan adanya sapi yang diduga terpapar virus jembrana, sebaiknya sesegera mungkin menghubungi petugas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Selanjutnya akan dilakukan observasi untuk menentukan seekor sapi terpapar virus atau tidak. Artinya akan sangat sulit melihat secara kasat mata.
“Jadi kalau memang ada sapi yang diduga terpapar virus, sebaiknya hubungi petugas, supaya dapat dilakukan penanganan dengan cepat,” katanya.
Menurutnya, cara tersebut jauh lebih baik ketimbang langsung menjual ke pedagang hewan atau pun langsung menyembelih untuk dikonsumsi. Pertimbangannya, jika sapi dalam keadaan kurang sehat untuk dijual, maka peternakan akan mengalami kerugian yang cukup besar, karena sapi yang sakit harganya akan jatuh.
Kendati demikian, sebutnya, virus jembrana bisa saja singgah di sapi jenis bali, karena sapi sejenis memang rentan terhadap virus tersebut. Namun, pihaknya siap melakukan vaksinasi untuk memperkuat daya tahan tubuh sapi jenis bali agar tahan terhadap virus jembrana.
“Kami rutin menggelar vaksinasi dan jika ada peternak yang ingin sapi-sapinya divaksinasi kami siap turun ke lapangan,” ujar Hazrita.
Banyak manfaat yang didapat dengan dilaksanakannya vaksinasi. Selain sapi-sapi lebih kebal terhadap penyakit, pelaksanaannya juga gratis. Untuk itu ke depan, ia meminta kepada masyarakat janganlah mengambil keputusan untuk menjual sapi, apabila bisa disembuhkan, sebaiknya disembuhkan.
Jika pun ingin menjual sapi, tunggulah hingga sapi benar-benar sehat, dan harga pun akan lebih baik.
“Memang dengan adanya informasi virus jembrana di Pesisir Selatan itu, berakibat pada harga jual sapi jenis bali turun dari sebelumnya. Dewasa per ekor dihargai delapan sampai sembilan juta rupiah, turun menjadi empat sampai lima juta,” ungkapnya.