Pendangkalan Bendungan Ijura, Sawah di Magepanda Krisis Air
Editor: Satmoko Budi Santoso
MAUMERE – Debit air di bendungan Ijura, Desa Done, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka menurun drastis sehingga tidak bisa mengairi areal persawahan di Desa Done, Magepanda dan sekitarnya.
“Sudah 3 tahun ini bendungan Ijura mengalami pendangkalan dan diperkirakan ada sekitar 300 kubik material pasir serta tanah di kolam bendungan. Air dari kali tidak bisa maksimal ditampung di bendungan ini,” sebut Kristianus Kise, warga Magepanda, Senin (22/10/2018).
Dikatakan Kris, sapaannya, bendungan ini pernah dikeruk tahun 2015 menggunakan Dana Alokasi Umum (DAU) yang dikerjakan oleh kontraktor berdasarkan proyek dari dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sikka namun belum maksimal.
“Mungkin saja pengerukannya kurang maksimal sehingga material pasir dan tanah masih menumpuk di dasar sungai sehingga menimbulkan pendangkalan. Air tidak bisa maksimal ditampung di bendungan ini,” terangnya.
Air mengalir melewati saluran yang berada di sisi barat bendungan, kata Kris, sebab tumpukan material menutup jalur air untuk masuk ke bendungan. Membuat ratusan hektar sawah yang ada di bagian utara bendungan selalu kekurangan air.
“Pemerintah harus melakukan pengerukan dan memperbaiki jalur air agar air dari kali bisa maksimal ditampung di bendungan. Mengairi areal persawahan di desa Done,” harapnya.
Akibat kriris air, tambah Kris, para petani di Desa Done tidak bisa menanam padi dua kali setahun. Kecuali saat musim hujan sehingga air di bendungan pun penuh dan bisa mengairi sawah.
“Kalau musim hujan selain mengandalkan air dari bendungan, areal sawah pun terbantu dengan adanya hujan. Kalau saluran irigasinya tidak ada masalah, hanya debut air di bendungan yang tidak mencukupi,” ungkapnya.

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, saat ditanya menyebutkan, dirinya akan meninjau dalam waktu dekat. Bila ada penumpukan material di kolam bendungan, maka dirinya akan memerintahkan dinas terkait untuk mengatasi.
“Saya akan melihat kondisi bendungan ini dalam waktu dekat. Bila perlu dilakukan perbaikan maka akan kita perbaiki agar areal sawah yang ada di sekitarnya bisa mendapatkan air yang cukup,” sebutnya.
Robi, sapaannya, mengatakan, dirinya baru mendapatkan informasi soal ini sehingga akan segera mengecek dan mengatasi. Pemerintah akan membangun embung-embung yang besar agar menampung air hujan.
“Curah hujan kita tinggi, tetapi air hujan selalu terbawa ke laut. Maka ke depan kita harus bangun banyak embung dan waduk untuk menampung air hujan agar petani bisa menanam minimal 2 kali dalam setahun,” ungkapnya.
Selain itu, tambah Robi, lahan yang ada bisa digali dan bagian bawahnya diletakkan lapisan plastik untuk menampung air hujan. Lalu lahan tersebut ditutup kembali dengan tanah.
“Dengan menggunakan metode ini, maka air hujan bisa terserap dan tertampung di tanah sehinggga lahan yang ada tetap basah dan bisa dipergunakan untuk menanam. Penggunaan teknologi penting dilakukan untuk mengatasi krisis air untuk pertanian,” terangnya.